Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Salat Bukan Sekadar Gugur Kewajiban, Tapi Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah

Rojiful Mamduh • Senin, 19 Januari 2026 | 07:00 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id – Salat tidak berhenti pada gugurnya kewajiban ibadah, melainkan menjadi jalan utama membangun kedekatan rohani dengan Allah SWT.

Pesan itu disampaikan Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH Achmad Cholili Alhafid, saat khotbah Jumat di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (16/1).

“Ada banyak pelajaran dalam salat,” tutur KH Achmad Cholili di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan, salat merupakan mikrajul mukminin, perjalanan spiritual orang beriman.

Rasulullah Muhammad SAW diangkat menghadap Allah saat Isra Mikraj, sementara seorang mukmin mengalami mikraj rohani setiap kali menunaikan salat dengan khusyuk.

Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Salat adalah mikrajnya orang-orang beriman.” Sahabat Abdullah bin Mas‘ud juga menyampaikan, “Siapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah ia salat.”

Salat juga menjadi penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya. Dalam salat, seorang muslim berdiri menghadap Allah, membaca firman-Nya, memuji kebesaran-Nya, serta bermunajat tanpa perantara.

KH Achmad Cholili mengutip hadis qudsi, “Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”

Imam Al-Ghazali turut dikutip dalam khotbah tersebut. “Hakikat salat adalah menghadirkan hati di hadapan Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya,” ujarnya.

Para wali Allah juga berpesan, siapa pun yang kehilangan rasa dekat dengan Allah dalam salat perlu memperbaiki hati sebelum membenahi gerakan.

Makna takbir mendapat penekanan khusus. Saat mengucapkan Allahu Akbar, seorang mukmin diingatkan tentang kecil dan lemahnya diri di hadapan Allah Yang Mahabesar.

Jabatan, harta, masalah hidup, serta hawa nafsu harus disisihkan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Khusyuk itu ada di hati, dan kerendahan diri itu tampak pada anggota badan.”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengingatkan, “Jika engkau mengucap ‘Allahu Akbar’ sementara hatimu masih dipenuhi selain Allah, maka engkau perlu bertobat dari takbirmu.”

Menurutnya, salat berjamaah mengajarkan persatuan dan ketaatan. Gerakan imam diikuti makmum tanpa mendahului atau menyelisihi.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.”

Firman Allah dalam QS Ash-Shaff ayat 4 turut menguatkan pesan tersebut, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka bangunan yang kokoh.”

Umar bin Khattab juga dikutip dalam khotbah itu. “Tidak ada Islam tanpa jamaah, dan tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan yang ditaati,” ujarnya.

Menutup khotbah, KH Achmad Cholili menegaskan salat menjadi jalan meraih rida Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah adalah salat pada waktunya.” Ia meneladankan kisah Imam Abu Hanifah yang menangis hingga subuh setelah mengulang satu ayat Al-Qur’an sepanjang malam.

Saat ditanya, Imam Abu Hanifah menjawab, “Aku takut berdiri di hadapan Allah tanpa membawa salat yang diterima.”

Pesan tersebut mengingatkan jamaah salat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan perjumpaan suci penuh rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah SWT. (jif/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#Menuju #jalan #polres jombang #Binrohtal #allah #salat