SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (7/1), Pengurus MWCNU Kecamatan Gudo, Dr Falah, menjelaskan pentingnya salat. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Salat adalah mikrajnya orang beriman,’’ tuturnya.
Kala Mikraj, Nabi berjumpa langsung dengan Allah Ta’ala. Perjumpaan orang beriman dengan Allah Ta’ala terjadi setiap salat.
Nabi Muhammad dimikrajkan secara jasad dan roh. Orang beriman dimikrajkan rohnya melalui salat. Saat salat, seorang hamba berdiri menghadap Allah, bermunajat, memuji, memohon, dan menyerahkan diri sepenuhnya.
’’Salat adalah tiangnya agama,’’ tegasnya. Orang yang menegakkan salat berarti menegakkan agamanya. Sebaliknya, orang yang meninggalkan salat berarti merobohkan agamanya.
Bangunan tidak akan tegak tanpa tiang, demikian pula agama seseorang tidak akan kokoh tanpa salat. Jika salat runtuh, maka runtuhlah bangunan keimanan.
Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan salat.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Salat adalah timbangan keimanan; siapa yang menjaganya maka ia telah menjaga agamanya.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Salat bukan sekadar rukuk dan sujud, tetapi tunduknya hati dan khusyuknya jiwa.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Barang siapa meremehkan salat, maka ia telah meremehkan Islam.
Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan, salat adalah latihan menghadirkan hati di hadapan Allah Ta’ala. Siapa yang salat tanpa hati, maka ia hanya mendapatkan gerakan lahir, bukan hakikat salat.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata: Wahai anak Adam, jangan engkau berdiri dalam salat dengan tubuhmu saja, tetapi berdirilah dengan hatimu di hadapan Allah Ta’ala.
Para wali Allah memandang salat sebagai saat perjumpaan paling intim dengan Rabb mereka. Karena itu, mereka menjaga wudu, waktu, dan kekhusyukan salat dengan penuh adab.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-‘Ankabut 45. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Dikisahkan seorang pemuda yang hidupnya penuh maksiat. Namun ia tidak pernah meninggalkan salat, meskipun salatnya belum sempurna. Suatu hari ia bermimpi ditegur oleh seorang alim yang berkata, ’’Salatmu itulah yang menahanmu dari kehancuran.’’
Pemuda itu akhirnya memperbaiki salatnya, dan perlahan Allah memperbaiki seluruh hidupnya.
Sahabat Abdullah bin Zubair radiyallahu anhu dikenal sebagai ahli ibadah dan sangat khusyuk dalam salat. Ketika dia salat di dekat Kakbah, burung-burung hinggap di pundaknya karena dia berdiri begitu lama dan tidak bergerak sama sekali. Bahkan saat terjadi gempa kecil di Makkah, Abdullah bin Zubair tetap berdiri dalam salatnya tanpa terpengaruh.
Hasan Al-Bashri pernah ditanya: Mengapa wajah ahli salat tampak bercahaya?
Dia menjawab: ’’Karena mereka sering ber-khalwat dengan Allah di malam hari, maka Allah memakaikan cahaya pada wajah mereka di siang hari.’’ (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto