SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (30/12), Ustad Wildan dari PP Attaufiq Sambong menjelaskan pentingnya memuliakan bulan Rajab. ’’Rajab termasuk empat bulan mulia yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Orang yang memuliakan sesuatu yang dimuliakan Allah, maka ia akan dimuliakan oleh Allah,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di QS Attaubah 36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Yakni Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijaah dan Muharram.
’’Maksudnya bulan haram yakni bulan diharamkan perang, bermusuhan dan pertikaian. Ini karena Allah Ta’alla memuliakan empat bulan itu,’’ terangnya.
Cara memuliakan bulan Rajab yakni memperbanyak ibadah dan amal saleh. Salah satunya dengan memperbanyak doa seperti diajari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; Allahumma bariklana fi Rajaba wa Syakbana wa balligna Ramadan. Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Syakban serta sampaikan kami di bulan Ramadan.
Memuliakan Rajab juga bisa dengan banyak puasa. Suatu ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam melewati kuburan. Nabi kemudian memberitahu sahabat bahwa orang dalam kubur itu sedang disiksa oleh Allah Ta’ala. Nabi bersabda; Seandainya dia mau berpuasa sehari saja di bulan Rajab, niscaya tidak akan disiksa di kuburnya.
Dalam kitab Mukasyafatul Qulub disebutkan, Rajab adalah nama sungai yang terdapat di surga yang memiliki warna putih melebihi putihnya susu. Airnya sangat manis melebihi manisnya madu. Serta lebih segar daripada es. Orang yang puasa Rajab akan diberi minum air itu.
Di bulan Rajab pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Orang yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, pahalanya seperti berpuasa setahun.
Memuliakan Rajab juga bisa dengan banyak membaca Alquran, zikir dan salawat. Termasuk banyak baca QS Al Ikhlas atau qulhu.
Dikisahkan, seorang ibu di Baitul Muqaddas setiap hari di bulan Rajab membaca qulhu 12.000 kali dengan berpakaian wol (pakaian kasar). Kemudian dia sakit dan berwasiat kepada anaknya agar dikubur bersama pakaian wolnya.
Ketika sang ibu meninggal, lalu anaknya mengkafani dengan kain baru, bukan yang diwasiatkan ibunya. Kemudian dia berjumpa ibunya dalam mimpi. Si ibu berkata: ’’Aku tidak rela padamu, karena engkau tidak melaksanakan wasiatku.’’
Anak itu terbangun dan secepatnya mengambil pakaian wol untuk dikuburkan di makam ibunya. Dia menggali kuburan ibunya akan tetapi tidak menemukan jenazah ibunya. Di saat sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara: ’’Tidakkah engkau ketahui bahwa seseorang yang taat kepadaku di bulan Rajab tidak akan kubiarkan sendirian di dalam kuburnya.’’
Jenazah wanita itu tidak ada dikuburnya karena oleh Allah Ta’ala dikumpulkan bersama orang-orang yang memuliakan bulan Rajab. (jif/ang)
Editor : Anggi Fridianto