SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (22/12), Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto, sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, menjelaskan keutamaan umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. ’’Allah Ta’ala memuliakan umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dengan memberikan banyak kebaikan,’’ tuturnya.
Meskipun umurnya singkat, tapi Allah Ta’ala memberi kesempatan untuk memperbanyak pahala. Sehingga kelak masuk surga lebih dulu dibanding umat-umat sebelumnya.
Allah Ta’ala memberi pahala berlipat ganda untuk setiap kebaikan yang dilakukan umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-An‘am 160. Barang siapa beramal satu kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat.
Bahkan Allah melipatgandakan pahala sedekah hingga 700 kali lipat. Seperti disebutkan di QS Al-Baqarah 261. Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada tiap-tiap tangkai seratus biji. Allah melipat gandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki.
’’Allah Ta’ala juga menghadirkan bulan-bulan istimewa sebagai ladang pahala,’’ terangnya. Sebagaiamana disebutkan di QS At-Taubah 36. Yakni bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijaah dan Muharram.
Rajab, Syakban, dan Ramadan merupakan bulan yang istimewa yang harus kita manfaatkan. Nabi mengajari doa; Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadan.
Ini menandakan, Nabi bersiap menyambut Ramadan sejak bulan Rajab.
Syekh Abdul Qodir Aljilani radiyallahu anhu menggambarkan, Rajab bulan menanam amal. Syakban bulan menyiram dan memupuk amal. Ramadan bulan memanen amal.
Puasa satu hari di bulan Rajab pahalanya seperti puasa satu tahun. Puasa Kamis, Jumat, dan Sabtu di bulan Rajab pahalanya seperti ibadah 900 tahun. Puasa tanggal 27 Rajab pahalanya seperti berpuasa lima tahun.
Suatu hari, Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah melihat seorang lelaki tertawa dan bercanda berlebihan di bulan Ramadan. Maka beliau berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan Ramadan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, mereka berlomba dalam ketaatan.
Ada kaum yang menang lalu bergembira, dan ada kaum yang kalah lalu menyesal. Sungguh mengherankan orang yang tertawa di hari kemenangan orang-orang yang bersungguh-sungguh.
Ini menunjukkan, Ramadan waktu panen. Dan hanya mereka yang menanam sejak Rajab yang akan memetik hasilnya.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani berkata kepada murid-muridnya saat memasuki bulan Rajab: Rajab bulan tobat, maka bertobatlah kalian kepada Allah Ta’ala di dalamnya.
Orang yang tidak membersihkan ladangnya di Rajab, akan sulit menanam amal di Syakban. Dan akan sulit merasakan manisnya amal di Ramadan. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto