Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.568 Menyikapi Perbedaan Pendapat  

Rojiful Mamduh • Selasa, 23 Desember 2025 | 14:31 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (19/12), Ustad Hambali, menjelaskan kiat menyikapi perbedaan pendapat. ’’Perbedaan pendapat tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Kita harus menyikapi sesuai tuntunan Allah Ta’ala dan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tuturnya.

 

Pertama, kedewasaan berpikir. Rasulullah bersabda: Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.

 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Janganlah engkau mengenal kebenaran dari orangnya, tetapi kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal para pendukungnya.

Islam mendidik umatnya untuk objektif, tidak fanatik buta, dan mampu memisahkan antara ide dan pribadi.

 

Kedua, mengutamakan dialog dan tabayun. Allah Ta‘ala berfirman di QS Al-Hujurat 6. Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.

Ini menjadi dasar pentingnya tabayun sebelum mengambil sikap. Dialog yang jujur dan terbuka sering kali mampu meredam konflik yang tampak besar.

 

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap ucapan saudaramu, selama engkau masih bisa menakwilkannya dengan makna yang baik.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Perbedaan para ulama adalah rahmat, selama tidak disertai hawa nafsu dan permusuhan.

 

Dialog yang dilandasi keikhlasan bukan untuk menang, tetapi untuk mencari kebenaran, akan melahirkan kedamaian dan saling pengertian.

 

Ketiga, menjaga etika dan adab dalam menyampaikan pendapat. Islam tidak melarang perbedaan, tetapi sangat menekankan cara berbeda pendapat.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nahl 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.

 

Bahasa yang santun, tidak provokatif, serta menghindari ujaran kebencian menunjukkan kedewasaan seseorang. Pendapat yang disampaikan dengan adab justru lebih mudah diterima dan memperkaya wawasan.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.

Ini menunjukkan puncak adab dalam perbedaan. Bahkan para wali Allah pun sangat menjaga lisan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berpesan: ’’Jangan engkau sibuk mencela orang lain, karena itu hanya akan mengotori hatimu sendiri.’’

 

Keempat, menumbuhkan rasa saling menghargai dan empati. Setiap pendapat lahir dari latar belakang, pengalaman, dan kondisi yang berbeda. Dengan empati, kita belajar memahami sebelum menilai.

Rasulullah bersabda: Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya.

 

Empati adalah jembatan menuju persatuan. Dari sinilah toleransi tumbuh dan ukhuwah dapat terjaga.

 Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafi‘i dalam beberapa masalah fikih. Namun ketika Imam Syafi‘i wafat, Imam Ahmad berkata: ’’Imam Syafi‘i bagi manusia, seperti matahari bagi dunia, dan seperti kesehatan bagi tubuh.

 

Perbedaan tidak menghalangi rasa hormat dan cinta karena mereka menempatkan akhlak di atas ego. (jif/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Kota Santri