Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Jombang, Bahaya Sifat Tamak  

Rojiful Mamduh • Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:41 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (12/12), Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh PP Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadizq, menjelaskan bahaya sifat tamak alias rakus. ’’Sumber segala kerusakan dua perkara: Mengikuti hawa nafsu dan tamak kepada dunia,’’ tuturnya.

 

Tamak dapat merusak agama seseorang lebih cepat dan lebih fatal daripada seekor serigala merusak sekumpulan kambing. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepas pada sekawanan kambing lebih berbahaya daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.

 

Orang tamak tidak pernah merasa cukup atas apa pun yang dimilikinya. Ia terus mengejar dunia tanpa batas, bahkan rela menghalalkan segala cara demi memenuhi hawa nafsunya. Ini termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan maksiat dan dosa besar.

 

Allah Ta’ala memperingatkan bahaya tamak di Surah At-Takatsur ayat 1–2. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Sifat tamak dapat membuat manusia lalai dari tujuan hidup, bahkan terus mengejar dunia sampai ajal menjemput.

 

Ciri-ciri orang yang tamak, terlalu mencintai harta yang dimiliki. Mencari harta secara berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh atau waktu. Pelit dan iri ketika membelanjakan harta.  Berat mengeluarkan harta untuk agama dan sosial. Mendambakan kemewahan dunia. Menilai segala sesuatu hanya dari sudut materi.

 

Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Orang tamak hakikatnya menjadi budak harta dan dunia. Hasan Al-Basri berkata: Tidaklah seseorang memperbudak dirinya kepada dunia kecuali akan hilang ketenangan dari hatinya. Ibnu Mas‘ud radiyallahu anhu berkata: Keyakinan yang benar adalah engkau lebih percaya pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu sendiri.

 

Tamak diibaratkan seperti orang haus yang meminum air laut: Semakin diminum, semakin haus. Tamak membuat hati menjadi gelap, sehingga tidak lagi membedakan antara halal dan haram.

Orang tamak rela menipu, mencuri, merampas, bahkan korupsi. Melupakan Allah dan akhirat. Ia hanya fokus mengejar dunia, padahal dunia hanyalah tempat singgah. Tamak menjadikan hati tidak tenang.

Tamak kekuasaan dapat melahirkan kolusi, nepotisme, dan tirani. Menghilangkan keberkahan hidup. Sebab harta yang didapat melalui kelicikan tidak akan membawa ketenangan.

Pada zaman Bani Israil, ada seorang laki-laki saleh yang memiliki sebidang tanah. Tetangganya sangat tamak dan menginginkan tanah tersebut. Ia mencoba membelinya, tetapi ditolak. Karena tamak menguasai dirinya, ia memfitnah tetangganya sehingga akhirnya tanah itu diambil paksa.

 

Namun tidak lama kemudian, Allah menurunkan musibah: Harta tetangga tamak tersebut hancur dan keluarganya ditimpa berbagai bencana.

Ini pelajaran, siapa yang membangun kekayaan dengan kezhaliman, maka Allah akan menghancurkannya. (jif/naz)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #polres jombang #Binrohtal