BILA Anda menduga kolom saya ini menyentuh gesekan di NU yang makin mengkhawatirkan, sebaiknya jangan lanjutkan baca. Karena, bagi saya, ada yang lebih mengkhawatirkandari itu: Bencana lingkungan.
Saat ini, bencana di Sumatera membuat kita terhenyak. Air bah datang seolah sebagai wujud amarah ’’Sunan Kali Jogo’’. Wali simbol penjaga budaya dan ekologi itumurka atas ulah manusia dalam mengelolatitipan ilahi ini. Maka, gelombang lumpur, bebatuan, hingga gelondongan kayu tanpa akar, menamparkesadaran kita bahwa alam tidak pernah kehabisan cara untuk menagih tanggung jawab manusia.
Ratusan orang meninggal dan hilang. Rumah lenyap, sawah musnah, dan jembatan putus membuat daerah terdampak seolah berada di pulau lain. Semua ini memang tampak seperti murka alam. Tetapi sesungguhnya ia buah dari kesalahan kecil yang kita biarkan menumpuk: Penebangan legal maupun ilegal, pembuangan sampah, limbah yang dibiarkan mengalir. Serta pemerintah yang lemah terhadap perusak lingkungan.
Jangankan memperlakukan hutan dan gunung. Leluhur kita dulu, sangat menghormati sungai karena diyakini dijaga ’’Sunan Kali Jogo’’, kini kita memperlakukannya seperti tempat sampah raksasa. Kita tidak takut melanggar, karena merasa sungai bukan bagian dari halaman rumah kita. Padahal, justru di situlah masalah bermula.
Mari melihat Jombang sebentar. Kita memang jauh dari Sumatera, tetapi bukan berarti jauh dari risiko.
Sungai-sungai kita, salah satunya yang melintasi Rejoso di Peterongan, sudah lama mengirim isyarat: Air memutih, bau menyengat, ikan enggan hidup, dan penduduk sekitar terpaksa hidup berdampingan dengan aroma yang membuat kepala pening dan hati jengkel.
Petani adalah pihak yang paling dulu menerima pukulan. Sungai yang tercemar membuat sawah kekurangan air bersih.
Tanaman tidak subur, panen menurun, dan petani kehilangan penghidupan. Akhirnya mereka beralih ke pabrik, yang ironisnya makin mekanis dan makin sedikit butuh manusia. Lingkaran pun terbentuk: Kerusakan lingkungan melahirkan bencana sosial ekonomi.
Sungai yang kotor itu seperti benang kaus yang tersangkut paku: Sekali mbrodol, merembet ke mana-mana. Rumah tidak nyaman, sekolah dan pesantren jadi sumpek. Musala tempat kerja tidak sehat. Ketika warga melapor, pemerintah sering tampak tak berdaya karena pencemarannya terlanjur akut dan biaya pemulihannya tidak kecil.
Mungkin kita memang membutuhkan cara baru untuk membangunkan kesadaran. Barangkali pejabat pemerintah dan anggota dewan perlu sesekali kemah retreat di tepi sungai-sungai yang tercemar. Bermalam di bawah tenda, ditemani air sungai yang memutih dan aroma khas yang membuat orang cepat taubatan nasuha ( pinjam istilah adinda Muhaimin Iskandar). Siapa tahu, setelah merasakannya langsung, muncul pemahaman bahwa persoalan lingkungan bukan statistik di atas kertas, tapi realitas getir yang dialami warga tiap hari.
Mengabaikan ’’Sunan Kali Jogo’’ bukan berarti memusuhi alam, tetapi menyangkal perilaku buruk kita selama ini.Maka dengan kesadaran mengakhiri kesembronoan kita dalam memperlakukan sungai dan lingkungan kita, itu berarti kita ’’mendaftarkan’’ diri sebagai pengikut beliau.
Namun, menjaga sungai bukan pekerjaan instan atau seremonial. Ia dimulai dari hal kecil: Tidak membuang sampah ke sungai, menegur pengusaha nakal, mengawasi saluran air, dan mendukung kebijakan lingkungan yang menyehatkan. Semua itu jauh lebih murah daripada memperbaiki rumah pascabanjir atau memulihkan ekonomi warga yang kehilangan pekerjaan.
Bencana di Sumatera seharusnya cukup menjadi pelajaran mahal. Kita tidak perlu menunggu ’’Sunan Kali Jogo’’ datang dengan wajah garang di Jombang. Lebih baik kita berubah sekarang: Memuliakan sungai seperti dulu, atau setidaknya memperlakukannya dengan hormat sebagai sumber kehidupan.
Alam selalu memberi tanda. Kalau sudah keras begini, barangkali pesannya tinggal satu: Saatnya manusia berhenti menjadi sumber bencana dan mulai menjadi penjaga.Sebagai penjaga kelestarianbumi seisinya yang senafas dengan fungsi ’’khalifah filardh’’. Salam sehat penuh rahmat.
Editor : Anggi Fridianto