SAAT ngaji usai salat Duhur Masjid Polres Jombang, Kamis (27/11), Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto, sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, mengajak bersiap menyambut bulan istimewa. ’’Kita harus menyongsong hadirnya bulan Rajab, Syakban dan Ramadan dengan amal ibadah yang berkualitas,’’ tuturnya.
Pertengahan Desember nanti kita sudah masuk bulan Rajab. Kemudian Syakban dan Ramadan.
Tiga bulan ini oleh para ulama disebut madrasatun ruḥiyyah, sekolah pembinaan rohani yang disiapkan Allah Ta’ala untuk menguatkan iman hamba-Nya.
Rajab bulan menanam. Perbanyak istighfar. Tinggalkan maksiat. Mulai disiplin salat. Serta lembutkan hati dengan sedekah.
Syakban bulan menyiram. Maka perbanyak puasa. Perbaiki hubungan sesama. Baca Alquran setiap hari. Tajamkan rasa takut kepada Allah Ta’ala.
Ramadan bulan panen. Baca Alquran dengan tadabbur. Jaga lisan. Bangun dan salat malam. Serta lipatgandakan amal saleh.
Kesempatan ini terlalu berharga untuk kita lalui dengan hati yang lalai. Karena itu, para salaf menasihati: Bersiaplah menyambut Ramadan dari sebelum Rajab.
Benahilah hati sebelum engkau membenahi amal. Dan salah satu cara terbesar untuk membenahi hati yakni mengingat mati.
Orang yang mengingat mati tidak akan menunda kebaikan. Ia sadar bahwa kesempatan beramal bisa berakhir kapan saja.
Sebagaimana diingatkan Allah Ta’ala di QS Ali Imran 185. Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.
Juga QS Annisa 78. Di mana pun kalian berada, kematian akan menemukan kalian.
Ayat ini menyadarkan kita: sebelum Allah mengizinkan kita mencapai Ramadan, kita terlebih dahulu harus berhasil melalui pintu kematian — yang waktunya tidak pernah pasti.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).
Orang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.
Mengingat mati membuat kita lebih jujur, lebih lembut, lebih taat, dan lebih sungguh-sungguh dalam ibadah.
Sayidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata; Cukuplah kematian sebagai penasihat.
Jika kematian saja tidak mampu menasihati kita, maka hati kita sedang sakit.
Imam al-Ghazali berkata; Ingatlah mati, maka dunia akan kecil di matamu, dan akhirat menjadi dekat bagimu.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailani menasihati; Setiap napasmu adalah langkah menuju kubur. Maka jangan habiskan langkah itu dengan kemaksiatan.
Dikisahkan, seorang saleh sering duduk di pinggir kuburan. Ketika ditanya mengapa ia sering ke sana, ia menjawab: Aku mendatangi mereka yang tidak pernah berdusta. Karena setiap kuburan berkata: ’’Wahai manusia, engkau akan menjadi seperti kami. Maka siapkanlah amal yang ingin engkau bawa ke sini.’’ (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto