Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Siapa Sangka? Amalan Ringan Ini Setara Haji dan Umrah Penuh

Rojiful Mamduh • Sabtu, 29 November 2025 | 14:20 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Zalzalah (6)

Fa man ya’mal mitsqal dzarrah khaira yarah. Wa man ya’mal mitsqal dzarrah syarra yarah. Sekecil apapun perbuatan manusia, baik amal baik atau buruk pasti diperhitungkan. Pasti mendapat balasan di akhirat nanti. Pada tesis ini didahulukan ungkapan amal baik (khaira) dan mengakhirkan uangkapn perbuatan buruk (syarra). Mengedepankan imbalan surga lebih dulu dibanding menunjuk siksaan neraka.

 

Begitulah mau-Nya Gusti Allah terhadap kita. Dia sangat menginginkan manusia itu apik-apik semua. Patuh semua kepada-Nya dan menawar-nawarkan surga-Nya yang indah dan super nikmat. Meski amal ke surga itu mudah dan tidak banyak modal. Ibadah salat tinggal datang saja ke masjid, ke mushalla untuk berjamaah, gratis.

Senyum dan ramah juga tidak modal, tapi berpahala besar. Untuk amal sosial jika punya. Ada syariah zakat, jika punya kelebihan rezeki. Jika tidak, maka menjadi penerima zakat dan itu berbarakah. Ada perintah haji, tapi jika memungkinkan.

Kalau tidak mampu, agama memberi solusi murah dan mudah, Yaitu bangun pagi, salat sunah qabliah Subuh dua rakaat, lalu salat Subuh berjamaah dan tetap iktikaf di dalam masjid atau musala sampai matahari terbit. Lalu salat sunah dua rakaat. Silakan diniati salat syuruq, isyraq atau Duha.

Wow.. Anda diberi pahala seperti pahala haji, umrah secara penuh. Jadi, sejatinya kita bisa umrah setiap pagi, kalau mau. Sempurnakan dengan salat Duha empat rakaat, dua kali salam. Lalu berdoa memohon rezeki berlimpah. Siapa melakukan ini, pasti hidup berkecukupan dan tidak mungkin tertimpa kemiskinan. Ya, memang tidak ada jaminan kaya-raya, tapi dijamin cukup sesuai kehendak-Nya.

Tidak hanya itu, amal ibadah dalam Islam itu diobrak-obrak lebih dahulu. Dirayu-rayu dan diingatkan. Salat fardu, ada azan pada setiap awal waktu. Khusus salat Subuh malah ada ada peringatan dini, ’’al-shalah khair min al-naum”. Salat itu lebih baik ketimbang ngorok.

 

Zaman Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, kira-kira satu jam sebelum waktu Subuh tiba, sahabat Bilal mengumandangkan azan dengan suara keras dan menambah kalimat ’’al-shalah khair min al-naum’’, setelah  hayya ala al-falah. Jadi maksud kata ’’al-shalah’’ di sini adalah salat tahajud. Seolah diingatkan, siapa yang semalam belum salat tahajud, kini masih ada waktu. Monggo. Pas waktu Subuh tiba, sahabat bernama Abdullah ibn Umm Maktum gantian yang azan Subuh, tanpa tambahan ’’al-shalah khair min al-naum’’. Dalam fikih, ’’al-shalah khair min al-naum’’ ini disebut‘’Tatswib’’. Nambah-nambahi ganjaran.

Pembaca paham kan..?

Bahwa Abdullah ibn Umm Maktum ini cacat netra dan buta total. Tetapi yang buta hanya mata penglihatannya saja, sementara hatinya selalu ’’on’’ dan perasaannya tajam memonitor.

Meski dia tidak bisa melihat fenomena alam, tapi mampu membacanya dengan nuraninya yang jernih, presisi dan tak pernah meleset. Gak tau tangi kawanan.

 

Sementara kita.., ada alarm di HP, ada jam di dinding, ada jam di pergelangan tangan, Tapi…?. Jadi, sesungguhnya yang ’’buta’’ itu siapa..?

 Ya Tuhan.. maafkanlah. Engkau Maha Pemurah dan Maha Memberi Ampunan.

 

Editor : Anggi Fridianto
#amalan #Jombang #Kota Santri #kh mustain syafiie