Radarjombang.id - KALI ini, saya ingin mengajak Anda melihat yang sedang viral di negeri Donald Trump, sambil menikmati susu hangat di depan Anda.
Bukan soal politik atau berakhirnya Shut down, tapi soal sekaleng susu bayi. Ya, sekedar susu. Benda kecil yang biasanya terjajar di rak minimarket itu, mendadak jadi pemantik perenungan nasional bahkan global. Sebagai akibat dari sebuah eksperimen sosial yang dilakukan TikToker : Nikali Monroe.
Eksperimennya sederhana, tapi efeknya luar biasa. Nikali menelepon 26 tempat ibadah di beberapa kota.
Ia mengaku sebagai seorang ibu tunggal, bayinya belum makan sejak semalam, dan ia hanya butuh sekaleng susu formula. Suaranya lembut, terdengar cemas, dan jujur saja, kalau kita dengar sendiri, mungkin langsung hati tergerak.
Tapi ternyata tidak semua tempat ibadah merespons seperti yang diharapkan. Dari 26 obyek yang diteleponnya, hanya 3 lembaga yang merespons positif. Berarti, sekitar 88% menolak atau mengabaikannya.
Alasannya macam-macam: sedang tidak ada program bantuan susulah, stafnya sibuklah, atau disarankan untuk menghubungi lembaga sosial lain saja. Kemudian dia mencoba menelepon dua tempat ibadah dari kaum minoritas yang berbeda. Dia sangat terkejut, karena mendapat respon dengan sigap dan empatik. Hanya ditanya jenis susu yang dibutuhkan dan tempat tinggalnya, tanpa banyak pertanyaan lagi.
Video rekaman telepon itu kemudian diunggah ke TikTok, dan dalam hitungan jam, jadi sangat viral. Warganet bereaksi keras.
Ada yang marah, ada yang sedih, ada juga yang bingung kenapa hal sekecil itu bisa membuat lembaga penyuara firman Tuhan menjadi tampak begitu dingin. Isu yang awalnya cuma soal susu, mendadak melebar jadi soal moral, kepedulian, dan integritas para pemuka agama.
Fenomena ini sebetulnya bukan hal baru, hanya saja, kali ini terekam, dan dunia menontonnya.
Eksperimen Nikali menyingkap satu kenyataan yang sering luput: bahwa lembaga keagamaan, sebaik apa pun niatnya, bisa kehilangan sisi manusiawinya ketika segalanya diukur dengan aturan dan prosedur yang rumit. Kadang empati terselip di antara jadwal agenda kegiatan seremoni yang massal, sehingga sisi kemanusian dan keikhlasan tenggelam di bawah gairah untuk mendapatkan validasi umat.
Kisah ini menyebar ke mana-mana, dan tentu membuat banyak orang mulai bertanya: kalau eksperimen seperti itu dilakukan di negeri kita ini, apa hasilnya akan lebih baik.? Apakah tempat-tempat ibadah kita siap mendengarkan suara lirih seseorang yang butuh bantuan, tanpa menanyai identitasnya dulu.? Ataukah kita juga akan berkata, “Maaf, coba hubungi yang lain saja”?
Sebetulnya, tidak perlu eksperimen untuk tahu bahwa kebaikan yang tulus itu langka. Tapi ketika sebuah dering telepon mampu membuka mata begitu banyak orang, mungkin memang sudah waktunya kita introspeksi. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tapi untuk mengingat kembali: wujud ibadah bukan sekadar memuji sang Khalik, tapi juga mengasihi makhluk-Nya.
Pepatah lama bilang, “Nila setitik, rusak susu sebelanga”. Sekarang, mungkin bisa kita mutakhirkan menjadi “Nikali setitik, rusak opini media se Amerika”. Satu content creator, seorang Tiktoker bisa menggerus opini yang dibangun puluhan tahun oleh media-media mainstream.
Padahal mereka dikendalikan konglomerasi yang secara masif dan sistematis memelihara friksi atau permusuhan antar umat beragama, demi meraup keuntungan. Itulah watak asli media kapitalis-sekuler yang dihantui ketakutan merugi bila masyarakat yang keyakinannya beragam mampu hidup rukun, damai dan sejahtera.
Akhirnya, dari uraian di atas, minimal kita bisa menangkap beberapa realitas.
Pertama, hakikat ajaran agama itu jelas dan indah, tapi begitu sampai pada sekelompok individu, ternyata wujud pengamalan atau perilakunya berbeda dari sumbernya.
Bahkan bisa bertentangan. Kedua, media-media Barat yang sering digelari sebagai pejuang obyektivitas, ternyata tidak obyektif terhadap minoritas, sehingga menimbulkan phobia di masyarakat akibat penyesatan informasi. Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk mengkritisi informasi mereka. Wallahu-a’lam bishshawab.
Editor : Anggi Fridianto