SAAT ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (12/11), KH Adib Zamzawi dari PP Tarbiyatun Nasyiin Paculgowang, Diwek, menjelaskan tanda umat akhir zaman. ’’Ada empat tanda umat akhir zaman,’’ tuturnya.
Pertama, senang dunia lupa akhirat. Allah mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhadid 20.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Akan datang suatu zaman ketika orang-orang hanya memikirkan dunia; urusan agama menjadi hal yang terakhir dalam perhatian mereka.
Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata: Akhirat berjalan mendekat, dan dunia berjalan menjauh. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak dunia.
Kedua, mencintai perhiasan dunia, lupa kubur. Rasulullah mengingatkan: Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan yakni kematian. Orang yang cerdas bukanlah yang pandai menghias dunia, tetapi yang mempersiapkan bekal menuju kematian.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Wahai manusia, kamu diciptakan untuk selama-lamanya, tapi kamu dipindahkan dari dunia ke akhirat. Bekalmu sedikit, perjalananmu jauh, dan jalanmu gelap. Maka persiapkanlah bekalmu.
Ketiga, cinta harta, lupa dari hisab. Cinta harta berlebihan membuat manusia tidak peduli apakah hartanya halal atau haram. Padahal, setiap harta akan dihisab secara detail. Sebagaimana disebutkan dalam QS Attakatsur 8. Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.
Rasulullah bersabda: Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara. Umurnya untuk apa ia habiskan. Ilmunya, apa yang ia amalkan. Hartanya dari mana ia mendapatkan dan ke mana ia membelanjakannya. Serta tubuhnya untuk apa digunakan.
Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang untuk kalian.
Keempat, cinta anak dan nafsu, lupa cinta kepada Allah Ta’ala. Nabi menegaskan: Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Cinta kepada Allah adalah kehidupan hati; siapa yang kehilangan cinta ini telah mati hatinya.
Dikisahkan, ada ulama bertemu seorang pemuda yang sangat sibuk mengejar dunia. Ulama bertanya: ’’Wahai pemuda, apa yang kau cari dalam hidup?’’
Pemuda itu menjawab: ’’Rumah yang indah, harta yang banyak, dan keluarga yang bahagia.’’
Ulama tersenyum dan berkata: ’’Semua yang kau sebutkan akan pergi meninggalkanmu atau kau tinggalkan. Tetapi ada satu yang tidak pernah meninggalkanmu yakni amalmu.
Mendengar itu, pemuda menangis dan berkata: ’’Kalau begitu, aku telah menelantarkan pendampingku yang abadi.’’ (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto