Karya: Atha Gendhis Anantha (kelas IX SMPT Al-Chodidjah Tebuireng)
Sejak pagi buta, suara hujan menimpa atap seng dengan irama yang tak berubah — monoton, lembut, tapi juga menyesakkan. Di rumah kecil di pinggir kota itu, Rara duduk di kursi rotan dekat jendela. Ia sudah duduk di sana sejak fajar, memandangi butiran air yang berlomba di kaca, menunggu satu hal yang tak mungkin kembali.
Di atas meja, cangkir teh melati yang dibuatnya sejak subuh sudah dingin. Uapnya lenyap, meninggalkan lingkar bekas air di tatakan.
Di sampingnya, ada sebuah buku catatan dengan tulisan tangan yang tak lagi akan bertambah: catatan harian ayahnya.
Ayah selalu menulis setiap pagi — tentang cuaca, tentang burung yang bertengger di pagar. Tentang hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin sepele, tapi baginya berharga.
Sejak ayah pergi tiga bulan lalu, buku itu menjadi benda paling sering disentuh Rara. Walau ia tak pernah benar-benar berani membacanya dari awal sampai akhir.
Kehilangan, pikirnya, bukan hanya tentang seseorang yang tak bisa dilihat lagi. Tapi juga tentang rutinitas kecil yang ikut lenyap bersamanya. Tak ada lagi suara langkah berat yang menuju dapur di pagi hari. Tak ada lagi seruan pelan, ’’Rara, jangan lupa sarapan sebelum kerja.’’
Tak ada lagi aroma kopi hitam yang menguar bersamaan dengan berita pagi dari radio tua.
Kini yang tersisa hanya hening. Hening yang tidak memekakkan telinga, tapi perlahan menekan hati.
Kadang Rara merasa rumah itu seperti menatapnya balik. Setiap dinding, setiap kursi, seolah tahu ia berusaha keras untuk tidak runtuh.
Malam hari menjadi waktu yang paling sulit. Karena di antara bunyi jangkrik dan jarum jam, kenangan muncul tanpa permisi. Ia sering membuka lemari ayah hanya untuk mencium sisa aroma minyak rambut yang masih tertinggal di kerah baju. Kadang ia berbicara sendiri di ruang tamu, pura-pura ayah sedang duduk di kursi favoritnya.
’’Hari ini hujan lagi, Yah,’’ katanya pelan. ’’Aku masih belum terbiasa.’’
Mungkin orang lain akan menyebutnya gila. Tapi bagi Rara, itu satu-satunya cara untuk bertahan. Suatu sore, ketika langit mulai mereda setelah hujan panjang, Rara keluar ke halaman belakang.
Pohon jambu di sudut pagar tampak basah, dan tanah beraroma segar. Di bawah pohon itu, ayah dulu sering duduk sambil membaca koran. Kini hanya ada kursi kayu yang lapuk, sebagian catnya mengelupas. Rara duduk di sana, mencoba membayangkan sosok ayah. Bukan seperti saat di rumah sakit — lemah dan pucat — tapi seperti dulu, dengan senyum hangat dan mata yang selalu menatapnya penuh kebanggaan. Air mata akhirnya jatuh juga, tanpa suara. Tapi kali ini berbeda. Ada kelegaan yang samar di sela tangisnya. ’’Mungkin… aku tidak kehilangan, ya Yah,’’ bisiknya. ’’Aku hanya harus belajar hidup dengan kenangan.’’
Angin sore berembus lembut. Daun jambu yang basah bergoyang perlahan, seolah menyahut. Di langit, awan mulai terbuka, menampakkan warna jingga yang malu-malu di ufuk barat. Rara menatapnya lama. Ada sesuatu yang berubah dalam hatinya. Bukan karena sedihnya hilang, tapi karena ia mulai memahami bahwa kehilangan bukan akhir dari keberadaan.
Terkadang, orang yang pergi tetap tinggal. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda: Dalam keheningan, dalam aroma hujan, dalam setiap napas yang ia ambil dengan tabah. Dan sejak sore itu, setiap kali hening datang, Rara tak lagi takut.
Ia tahu, hening bukan berarti kosong.
Hening adalah cara semesta memeluknya — dengan kenangan, bukan dengan suara.
Editor : Anggi Fridianto