SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (5/11), Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Ngoro, KH Moh Mahrus, menjelaskan tanda celaka. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tanda-tanda orang yang celaka ada empat perkara,’’ tuturnya.
Pertama, lupa akan dosa-dosa yang telah lewat. Merasa aman dari dosa, lupa bahwa semua amal tercatat di sisi Allah Ta’ala. Dia merasa sudah bersih, padahal masih membawa dosa yang belum ia tobati.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Seorang mukmin memandang dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung yang siap menimpanya. Sedangkan orang munafik memandang dosanya seperti lalat yang hinggap di hidung, lalu ia kibas dengan tangan.
Orang yang lupa akan dosanya maka akan mudah menambah dosa.
Kedua, suka menyebut kebaikan sendiri. Dia sering membanggakan amalnya. Padahal ia tidak tahu apakah amal itu diterima atau tidak.
Imam Al-Ghazali menegaskan; Pamer dan bangga terhadap amal adalah penyakit hati yang membuat amal hancur seperti api membakar kayu kering.
Seorang ahli ibadah berkata kepada temannya, ’’Aku telah beribadah selama 40 tahun tanpa maksiat.” Temannya menjawab, ’’Ucapanmu itu adalah maksiat pertama yang kau lakukan.’’
Artinya, kesombongan terhadap amal dapat menghapus nilai kebaikan itu sendiri.
Ketiga, memandang orang lebih tinggi dalam urusan dunia sehingga sulir bersyukur. Selalu iri dengan kenikmatan dunia orang lain. Iri dengan orang yang punya rumah lebih mewah, harta lebih banyak, atau jabatan lebih tinggi.
Padahal Rasulullah bersabda: Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang di atasmu. Agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Jika engkau ingin bahagia, lihatlah orang yang lebih miskin darimu dalam urusan dunia, dan lihatlah orang yang lebih taat darimu dalam urusan agama.
Dengan memandang ke bawah dalam hal dunia, hati akan lebih bersyukur dan terhindar dari rasa iri yang membutakan.
Keempat, memandang yang lebih rendah dalam hal agama sehingga sombong. Dia merasa cukup dengan ibadahnya karena melihat orang lain lebih buruk dalam hal agama.
Ini sumber ujub (bangga diri) yang dapat menjerumuskan.
Allah berfirman di QS Annajm 32. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa.
KH Hasyim Asy’ari dalam Adabul‘Alim wal Muta‘allim menulis: Hendaklah penuntut ilmu tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain, karena orang yang lebih bodoh darinya mungkin lebih dekat kepada Allah karena keikhlasannya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto