Ternyata, di pengadilan Tuhan nanti, bumi ini bisa berbicara dengan fasih, lancar dan mendetail. Dia memberi kesaksian kepada apa saja yang dia ketahui. Seperti saksi jujur dan cedas yang mengetahui secara detail semua perbuatan tersangka.
Sehingga tersangka tak berkutik dan hanya merunduk pasrah. Itulah makna: Yaumaidz tuhaddits akhbaraha. Bi ann Rabbak auha laha. Ya, bumi ini kelak memang bisa berbicara karena disuruh Tuhan. Rabbnya yang membisiki: ”Hai bumi..bicaralah, bicaralah’’ dan
bumi itu menurut.
Pada ayat ini, dalam memberi perintah ke bumi, Tuhan menggunakan kata ’’Auha’’. Memberi wahyu, membisiki, sama dengan kata yang dipakai Tuhan ketika memberi wahyu kepada para nabi-Nya. Secara umum, kata ’’auha, yuhi, iyha, wahyu..’’ adalah semua instruksi rahasia atau bisikan internal.
Kata ini, dalam Alquran dipakai untuk umum, tidak hanya bisikan baik saja, bahkan bisikan buruk, seperti bisikan setan kepada kroninya. Wa inn al-syayathin layuhun ila auliaihim liyujadilukum (al-An’am:121).
Bisikan setan inilah yang harus diwaspadai karena sangat berbahaya. Bisikan setan pasti menyesatkan. Bisikan setan sungguh halus dengan bumbu-bumbu pemanis yang meyakinkan. Di sinilah, ahli ibadah sekalipun, jika tidak mawas nan cermat, bisa terjungkal dan terjerumus.
Dukun perewangan. Bisa jadi menerawang, berfirasat atau bermimpi dan terbukti. Lalu menuduh orang lain begini dan begini. Pelakunya ini dan ini. Ada yang mimpi dan merasa dibawa ke alam Tuhan. Di sana dibisiki suara-suara aneh dst. Lalu merasa sakti, makrifat dan menjadi wali. Ini pasti ulah setan.
Dialah Syekh Abd al-Qadir al-Jilani (bukan Jailani) yang berjuluk sultan al-auliya’.
Pernah munajah ke hadirat Allah Ta’ala malam hari dengan penuh khusyuk dan tadlarruk. Puncaknya.. tiba-tiba ’’byar..’’ dan berada di ruangan sangat indah, penuh aneka cahaya.
Lalu ada suara sangat berwibawa menyapa: ’’Marhaban.. ayyuha al-abd al-shalih..dan seterusnya.’’Selamat datang wahai hamba-ku yang saleh. Engkau kini sedang berada di beranda Rabb-mu. Kamu kini sudah manunggal dengan Dzat-Ku. Maka Aku beri kebasan berbuat apa saja. Tak lagi ada dosa atas kamu.. dan seterusnya.
Syekh al-Jilani terdiam sejenak dan spontan membentak keras sekali: ’’Ikhla’ anta ya la’in..”. Enyahlah kamu dari hadapanku, wahai iblis yang terkutuk.
Dibentak demikian, suasana berubah seketika dan kembali seperti sedia kala.
Syekh melanjutkan munajahnya. Ketika hal itu dikhabarkan kepada para muridnya, seorang murid bertanya: ’’Ya syekh.. dari mana tuan guru mengetahui bahwa itu ulah iblis..?’’
Syekh: ’’Dari kata-katanya yang membebaskan aku boleh berbuat apa saja, tanpa berdosa. Itu
pasti menyesatkan dan pasti bukan suara Tuhan.’’
Editor : Anggi Fridianto