SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (23/10), Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi) menjelaskan pentingnya mewaspadai fenomena Ruwaibidhah.
’’Fenomena ini sudah ada. Kita harus waspada agar selamat darinya,’’ tuturnya.
Suatu ketika, Nabi Muhammad sallalalhu alaihi wa sallam menyampaikan peringatan. Akan datang tahun-tahun yang penuh penipuan. Para pendusta dibenarkan dan orang benar didustakan. Para pengkhianat diberi amanah, sementara orang jujur dikhianati.
’’Ruwaibidhah ialah seseorang yang dungu, tapi dipercaya dan sibuk mengurusi urusan publik,’’ terangnya.
Jika peringatan Nabi ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi rusaknya umat atau generasi.
Sebagaimana disebutkan di QS Al-A’raf 34. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Maka apabila datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Ajal bukan hanya individu atau perorangan. Sebuah rezim, orde, perkumpulan, bangsa, negara, dan umat juga memunyai ajal. Jika suatu komunitas hendak memperpanjang usia eksistensinya, harus memelihara hukum-hukum sosial. Seperti halnya orang yang ingin memiliki hidup panjang dan sehat, maka harus merawat kesehatannya.
Setiap generasi akan melewati empat tahapan. Perintis, pembangun, penikmat, dan generasi penghancur.
Ciri-ciri orang Ruwaibidhah, generasi penghancur, yaitu merasa sok pintar padahal sesungguhnya dungu. Tidak mau mendengarkan nasihat dan saran dari orang lain karena merasa paling tahu dan paling pintar.
Gampang mengucilkan para pengkritiknya. Tidak mau mendengarkan bahasa agama dan para ulama. Serta menganggap kebohongan publik sebagai sesuatu yang wajar.
Dinasihati menganggap direcoki. Diberikan alternatif solusi masalah malah ditolak. Mereka jalan sendiri dengan keinginannya, tidak peduli apakah orang lain puas atau tidak.
Jika tanda-tanda Ruwaibidhah muncul, bukan hanya akan merusak tatanan kehidupan masyarakat, melainkan juga menjadi pintu masuk datangnya musibah yang beruntun.
Alam sudah tidak lagi akan menunjukkan persahabatannya dengan manusia. Anomali cuaca dan musim dengan segala akibatnya semakin terasa di dalam kehidupan masyarakat.
Penyakit yang tanpa ketahuan obatnya lalu akan datang merajalela, kriminalitas bermunculan di mana-mana, dosa dan maksiat semakin terbuka, dan pada akhirnya doa berjemaah semakin tumpul.
Cara mengembalikan situasi normal, manusia secara individu maupun kolektif, mau kembali mengevaluasi diri dan meninggalkan semua kebiasaan buruk.
Menyelesaikan berbagai problem sosial kemasyarakatan bukan hanya melalui teori-teori sosial, seperti pendekatan ekonomi, politik, dan keamanan. Tapi juga tobat secara masif dan perlu berdoa secara berjemaah, yang dalam tradisi NU bisa disebut istighatsah.
’’Kita harus berani mengakui kekhilafan diri di hadapan Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto