Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.512: Memuliakan Kiai, Memuliakan Nabi  

Rojiful Mamduh • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 11:42 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (17/10), Pengasuh PP Al Azhar Senden Peterongan, H Hadzik Ainur Rizqi, menjelaskan pentingnya memuliakan kiai. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa memuliakan kiai atau orang alim, maka sesungguhnya ia telah memuliakan Nabi. Karena ulama adalah pewaris ilmu Nabi,’’ tuturnya.

 

Memuliakan orang tua, guru, dan para ulama merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang luhur.

Orang tua merupakan pintu utama menuju rida Allah. Di Alquran, Allah sering menggandeng perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.

Seperti dalam QS Al-Isra 23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak.

 

Nabi bersabda: Rida Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.

 

Sedangkan guru, kiai, merupakan pembimbing spiritual sekaligus pendidik akhlak. Memuliakan mereka bentuk penghormatan terhadap ilmu dan warisan Nabi.

 

Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Barangsiapa yang mengajarkanku satu huruf, maka aku menjadi hambanya.

 

Adab kepada guru meliputi: Tidak memotong pembicaraannya, tidak duduk lebih tinggi dari guru, tidak bersuara keras di hadapannya, serta senantiasa mendoakan kebaikan untuknya.

 

Pesantren adalah benteng keilmuan, keimanan, dan kebudayaan Islam. Sejak dahulu, pesantren telah menjadi tempat bersemainya para ulama dan pejuang. Di sanalah nilai-nilai adab, kedisiplinan, dan keikhlasan ditanamkan. Kiai bukan hanya pendidik, tapi juga teladan moral, spiritual, dan sosial.

Pesantren mengajarkan santri untuk hidup sederhana, menghormati guru, menghargai ilmu, serta menjaga ukhuwah Islamiyah.

 

Pesantren tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga pejuang kemerdekaan dan tokoh masyarakat. Banyak kiai dan santri yang terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

 

Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi tonggak penting peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

 

KH Maimun Zubair berkata: Santri bukan hanya tahu kitab, tapi juga tahu tata krama dan tahu cara menjaga negeri.

 

 

Hari Santri juga mengajarkan kita untuk terus menjaga hubungan dengan guru, kiai, dan orang tua dengan penuh adab dan hormat, karena dari merekalah keberkahan ilmu dan kehidupan mengalir.

Dikisahkan, Imam Malik tidak menunggangi kendaraan di kota Madinah. Karena ia merasa malu berjalan di atas tanah tempat jasad Rasulullah dikuburkan. Ini bentuk adab tinggi seorang ulama terhadap ilmu dan sumbernya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Kota Santri