SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (8/10), Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, menjelaskan pentingnya ngaji sepanjang hayat atau long life education. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Carilah ilmu sejak buaian ibu hingga liang lahad,’’ tuturnya.
Ilmu merupakan fondasi ibadah. Allah Ta’ala berfirman di QS Azzumar 9. Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Tanpa ilmu, seseorang bisa jadi bersungguh-sungguh dalam beribadah, tetapi keliru dalam tata caranya atau bahkan menyimpang dari syariat. Oleh sebab itu, belajar kunci agar ibadah menjadi benar dan diterima.
Nabi bersabda; Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.
Muadz bin Jabal radiyallahu ‘anhu berkata: Belajarlah ilmu. Belajar karena Allah adalah rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, dan mencarinya adalah jihad.
Belajar (ngaji) merupakan ibadah yang memiliki nilai lebih tinggi daripada amal fisik semata.
Nabi bersabda; Menghadiri majelis orang berilmu lebih utama daripada mendirikan salat seribu rakaat, menjenguk seribu orang sakit, dan bertakziah ke seribu jenazah.
Jika kalian melewati taman-taman surga, singgahlah dengan hati riang. Para sahabat bertanya, Apakah taman-taman surga itu, ya Rasulullah? ’’Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) zikir (ilmu),’’ jawab Nabi.
Nabi juga bersabda; Tafakkur selama satu jam lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.
Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat di hadapan-Nya.
Para ulama terdahulu menghidupkan prinsip – menuntut ilmu tidak pernah berhenti selama nyawa masih di kandung badan.
Imam Ahmad bin Hanbal di usia senjanya masih membawa papan tulis kecil dan tinta. Ketika ditanya, beliau menjawab: ’’Aku akan terus belajar hingga ke liang kubur.’’
Imam Al-Auza’i, ahli fiqih dari Syam, tetap menulis dan mengajar dalam kondisi sakit berat, dan wafat dalam keadaan pena masih di tangan.
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto