Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Mustain Syafii: Kedonyan (8)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 14:05 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Latarawunn al-jahim, you bakal melihat sendiri neraka jahim. Sebuah tesis yang menggambarkan bahwa manusia kedonyan pasti digiring ke neraka Jahim. Dan saat sudah dekat, maka dia menyaksikan sendiri bahwa neraka Jahim itu ada dan nyata. Terus la opo..?

Seperti penjahat, bajingan, koruptor, saat sedang beraksi, dia sama sekali tidak menyadari, bahwa perbuatannya itu salah dan berakibat dipenjara. Tapi tidak menggubris ancaman tersebut. Batinnya, hah.. itu nanti, ya urusan nanti. Begitu tertangkap dan digiring ke penjara, baru sadar. Seperti itulah wong kedonyan nanti di akhirat. Diperlihatkan, digiring ke neraka

Jahim, bukan rekreasi, tapi dijeboskan di situ dan benar-benar merasakan sendiri kepedihan siksanya. Tak ada yang menyelamatkan, meski kerabat dekatnya sendiri dan itu nyata.

 

Di sini berbeda, antara keadaan surga dan neraka. Neraka itu pintunya selalu ditutup rapat dan digembok, seperti penjara. Baru dibuka jika penghuninya datang. Sedangkan surga itu kayak hotel, pintunya selalu terbuka. Kapan saja tamu datang, pasti disambut gembira. Jadi, aslinya Gusti Allah itu tidak menghendaki hamba-Nya masuk neraka. Kok ada yang masuk, iku kebachuut. Soal keimanan terhadap yang gaib memang tidak mudah diterima, ya karena arenanya tidak nyata dan tidak bisa disaksikan saat itu. Tetapi Tuhan telah banyak memberikan tulodo dan tamsilan logik. Tinggal manusianya, apa mau beriman atau tidak. Kalau ada mendung padat, gelap, tanpa angin, logikanya ya sebentar lagi turun hujuan. Wong ndeso percaya itu, makanya mereka segera ngentasi padi yang dijemur.

 

Terhadap bersedekah, Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi-Nya telah woro-woro, bahwa pasti akan mengganti apa yang disedekahkan, bahkan berlipat. Jadi, kalau mau rezeki makin berlimpah, ya sedekahlah. Tidak ada orang yang jatuh melarat karena bersedakah dengan benar.

 

Kisah sayyidah Fathimah radiyallahu anha, putri Rasulillah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang memberikan kalung emas, maskawin dari suaminya, Ali bin Abi Thalib, kepada pengemis tua sungguh drama keimanan tingkat tinggi. Kala itu, Fathimah tak punya apa-apa untuk diberikan, hanya kalung itu. ’’Nek.. ini kalung emas, jual-lah untuk makan dan keperluan nenek..’’

 

Kalung itu dijual dan dibeli oleh Abdur Rahman ibn Auf radiyallahu anhu, sahabat terkaya

kedua setelah Utsman ibn Affan. Tahu bahwa itu kalung Fathimah, Abdur Rahman

memberikan kembali ke Fathimah. Waw.. sudah mendapat pahala sedekah, tapi

kalung tetap utuh. Saking ikhlase..

 

Editor : Anggi Fridianto
#Radar Jombang #KH Mustain