Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Mustain Syafii: Kedonyan (7)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 27 September 2025 | 10:38 WIB

 

KH Mustain Syafiie dengan rubrik Tafsir kontemporer yang diasuhnya
KH Mustain Syafiie dengan rubrik Tafsir kontemporer yang diasuhnya

Radarjombang.id - Tafsir tentang ’’al-yaqin’’, di dalam Alquran ada tiga kata yang mengantarnya. Pertama, ilm, ilmal yaqin. Kedua, ain, ‘ainal yaqin. Keduanya ada pada surah kaji ini. Dan ketiga, haqq, haqqul yaqin. Ini ada di bagian akhir surah al-Waqi’ah.

Pengetahuan, mengerti. Ain itu melihat dengan mata kepala sehingga lebih tahapannya dari ilmu, ke ain, lalu ke haqq.

Ilmu itu jelas. Sedangkan haqq itu nyata, terbukti dan bisa dirasakan. Klasifikasi yaqin di atas biasanya garapannya ahli tasawuf yang suluk, menempuh jalan menuju Tuhan dengan irfaniyahnya yang hakiki. Gimana, ruwet..?

Mudahnya begini, you melihat, di kejauhan sana, melip-melip ada api, atau melihat ada asap mengepul-ngepul dan membumbung. Lalau pikiran anda mengmbil kesimpulan secara yakin, bahwa itu api atau di sana ada api. Nah, itu namanya ilmul yaqin.

 Baca Juga: KH Mustain Syafii: Kedonyan (6)

Lalu, anda datangi tempat itu dan anda dekati, anda lihat sendiri dan anda yakini bahwa itu memang api. Tahap kedua ini namanya ainul yaqin. Kemudian Anda masih penasaran dan ingin membuktikan lebih lanjut. Lalu api yang di depan anda itu panjenengan sentuh, lalu anda merasakan panas diteruskan nambah, terasa panas. Nah, tahap ketiga ini namanya haqqul yaqin. Nyoto tur keroso. Terbukti dan nyata.

Umumnya, derajat kearifan manusia kebanyakan terhadap Tuhan ada pada level ilmal yaqin. Sebatas mengerti ada Tuhan yang mesti diimani dan disembah.

Mereka menjalankan ibadah dengan dasar pengetahuannya, bahwa menyembah Tuhan tersebut lazimnya diekspresikan dalam salat, puasa, zakat, haji, membaca Alquran dan lainnya.

Karena ibadahnya ini berdasar ’’mengerti’’ saja, maka acap kali pengertian tersebut tidak dalam, tidak rasyikh dan tidak menjiwai. Jadinya, ketika salat tidak mesti serius, khusyuk dan penuh konsentrasi. Kadang glambyar, formasinya sedang salat, tapi hatinya ke mana-mana.

 

Bahkan bisa dikatakan, tidak ada manusia biasa yang bisa salat penuh khusyuk seratus persen, dari takbir hingga salam hanya merasa di hadapan Tuhan saja.

Jawabannya ya tadi, kearifannya kepada Tuhan hanya sekelas ilmu. Namanya ilmu, mengetahui itu penyakitnya ya lupa. Dan lupa itu gawane bayi, melekat dan selalu tumbuh. Bisa berkurang dengan aktif latihan mengingat-ingat dan konsentrasi.

 

Makanya, jurnal pahala salat itu diskor begini. Bila salat dijalankan dengan memenuhi standar syarat dan rukun, maka itu sah dan gugurlah kewajiban manusia mukallaf. Perkoro seberapa dapet pahala, maka itu ditentukan dari tingkat kekhusyukannya. Semakin khusyuk, maka semakin banyak pahala.

 

Kira-kira di sinilah keberadaan tingkat ilmal yaqin. Kearifan seseorang masih belum stabil dan belum mapan. Itu, belum lagi soal kemalasan dan keseriusan beribadah. Malas beribadah adalah tanda derajat ilmal yaqin-nya rendah. Giat beribadah menunjukkan derajat meningkat.

Lebih dari itu, ketika seseorang merasa diawasi Tuhan, membayangkan seolah dia

melihat Tuhan sedang memonitor dirinya. Dengan penglihatan ini, tentu saja dia bermanis-manis di hadapan Sang Maha Kuasa. Makanya, di kalangan kaum sufi terkenal jargon ’’Salatlah secara khusyuk, kalau tidak ya dikhusyuk-khusyukkan.’’

 

Mengkhusyuk-khusyukkan itu adalah sebuah ikhtiar yang jitu dan lama-lama akan menjadi khusyuk beneran.

Ambil contoh seorang pembantu. Mana yang lebih seirus dilakukan: Ketika melihat ada majikan di hadapannya atau tidak ada. Ketika bekerja seenaknya, karena tidak ada majikan.

Maka itu tingkatan ilmal yaqin dan ketika bekerja lebih serius saat melihat ada majikan, maka itu tingkatan ainal yaqin.

 

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Jombang #KH Mustain Syafii