Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zu'em: Sarjana Post Truth

Anggi Fridianto • Senin, 25 Agustus 2025 | 15:02 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Radarjombang.id - SAAT ini, setiap sarjana yang menerima ijazah, ibarat menerima paspor untuk memasuki wilayah negara lain.

Mereka akan memasuki sebuah medan yang, harus kita akui, sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Karena kita sekarang  hidup di era yang sering disebut sebagai era post-truth.

Apa itu post-truth.? Itu adalah era di mana emosi dan keyakinan pribadi sering kali lebih berpengaruh daripada fakta objektif. Di dunia ini, kebenaran bisa tenggelam oleh banjir bandang informasi.

Hoaks menyebar lebih cepat daripada berita yang verifikatif. Opini dikemas sebagai fakta, dan prasangka sering kali lebih laku daripada argumen yang rasional.

Di tengah gempuran algoritma media sosial yang menyuguhkan apa yang kita suka, bukan apa yang kita butuhkan, di sinilah tantangan terbesar para sarjana baru.

Lalu, bagaimana mereka harus menghadapinya.? Apakah akan larut dan terseret arus.? Jawabannya: tidak, bila mereka dibekali dan memanfaatkan bekal yang diterimanya, beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, bekal integritas keilmuan. Fondasi keilmuan yang dibangun di kampus tidak hanya tentang menghafal teori, tetapi juga tentang metodologi. Tentang cara berpikir kritis, verifikasi (tahqiq), dan konfirmasi (tabayun) sebagaimana diajarkan dalam Islam ketika seseorang harus menyikapi datangnya informasi.

Kedua, bekal kompas moral yang kuat: Akidah dan Akhlakul Karimah.

Di tengah dunia yang kabur, nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang diberikan akan menjadi mercusuar. Kebenaran (Al-Haqq) yang absolut hanya datang dari Allah, bukan sesuatu yang dinegosiasikan atau hasil voting like dan share. Maka seorang sarjana tidak hanya jadi pribadi yang pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak. Ilmu tanpa akhlak adalah bom waktu, sedangkan akhlak tanpa ilmu adalah lentera yang redup.

Ketiga, bekal perspektif tradisi keilmuan yang otentik. Dunia mungkin berubah, tetapi prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan dalam Islam tetap relevan.

Konsep tawazun (keseimbangan), tawasuth (moderasi), dan i'tidal (keadilan) adalah obat dari ekstremisme dan polarisasi yang sering terjadi di era post-truth. Dengan demikian, peluang untuk menjadi juru damai yang menyatukan dan penenang gelombang kebencian, sangatlah terbuka.

Apabila ketiga hal di atas menjadi tongkat dan payung perjalanan hidup para sarjana baru, mereka akan menjadi generasi Indonesia tangguh yang dibutuhkan dunia. Karena  dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai mengutip teori Barat, tetapi juga mampu menggali khazanah keilmuan Nusantara yang khas: generasi yang mampu menjawab tantangan modern dengan solusi yang berkelanjutan dan berakhlak.

Oleh karena itu, wahai para sarjana baru, Jadilah pembeda. Bawalah cahaya ilmu yang diperoleh selama ini ke tengah kegelapan informasi. Bawalah ketenangan akhlak ke tengah hiruk-pikuk dunia digital. Bawalah kejernihan hati untuk menyaring segala kebisingan yang menyesatkan.

Ingat, gelar akademik adalah amanah, dan ilmu yang dimiliki adalah tanggung jawab. Kelak, di hadapan Allah, kita tidak akan ditanya berapa banyak like dan follower yang kita dapat, tetapi akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap ilmu yang kita sebarkan dan setiap pengaruh yang kita berikan.

Narasi di atas, akhir-akhir ini sering saya sampaikan di hadapan para wisudawan, terutama ketika saya selaku ketua asosiasi PTS provinsi Jawa Timur diminta memberi sambutan di PTS di bawah naungan yayasan yang berbasis keagamaan. Sehingga kemarin saya sampaikan juga di hadapan wisudawan Unipdu.

Hal itu sebagai bentuk kegelisahan saya, bila tengara Tom Nichols tentang matinya kepakaran ( The Death of Expertise ) betul-betul mewujud dalam komunitas akademis.

Maka kepada Anda semua, terutama yang telah menyandang gelar akademik, pastikan diri Anda untuk tidak terbawa arus informasi sampah yang kian deras. Mungkin Anda akan menjadi orang yang langka dan terasing, akan tetapi jika Anda bertahan sebagai emas di antara kubangan sampah, maka dimana pun berada, kilau Anda akan tetap mencahayai kehidupan yang bersih, sehat dan nyaman.

Selamat memantaskan diri sebagai emas, agar hidup kita bernilai dan bermanfaat di mata sesama.

 

Editor : Anggi Fridianto
#Kolom Gus Zuem #Jombang #Radar Jombang #sara