RadarJombang.id - Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (1/8), Ustad Hambali menjelaskan kunci selamat di era digital.
’’Akhlak harus kita jaga agar selamat di era digital,’’ tuturnya.
Ketika informasi datang bertubi-tubi, kita harus tenang dan berpikir jernih.
Memberi ruang pada diri untuk mencerna informasi secara lebih bijak
Tenang adalah fondasi untuk bisa memproses sesuatu secara rasional. Ini penting agar kita tidak menjadi bagian dari mata rantai penyebar disinformasi atau mengambil keputusan yang keliru karena tekanan situasi.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 6: Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Tabayyun (verifikasi) adalah kunci utama dalam menyaring informasi agar tidak menjadi bagian dari mata rantai kebohongan.
Banyak orang terjebak dosa lisan (atau jari-jemari di era digital) karena menyebarkan informasi tanpa menyaring terlebih dahulu.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Cukuplah seseorang dikatakan berdosa, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Ini adalah pedoman adab digital: jika tidak ada manfaat atau kebaikan dalam yang kita bagikan, lebih baik diam.
Hasan al-Bashri rahimahullah (seorang tabi’in agung) berkata: Orang mukmin menjaga lidahnya lebih dari apa pun yang dijaganya. Ia tidak menyebar kecuali yang jelas dan bermanfaat.
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu menerima laporan dari seseorang tentang salah satu pejabatnya yang diduga korupsi.
Umar tidak langsung marah. Beliau justru memanggil yang bersangkutan, melakukan tabayyun, dan menyelidiki.
Ternyata, laporan tersebut salah. Sikap tenang dan hati-hati Umar mencegah terjadinya kezaliman.
Kita hidup dalam zaman di mana potongan video, gambar, dan narasi clickbait bisa menciptakan persepsi yang salah.
Kebohongan yang diulang terus menerus dapat mengalahkan kebenaran yang diam.
Karenanya, kita perlu: Memeriksa sumber informasi. Menelaah konteks. Menghindari penilaian cepat.
Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Kita bisa menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan. Islam mengajarkan agar setiap aktivitas manusia—termasuk di dunia digital—diiringi dengan adab, etika, dan pertanggungjawaban.
Allah SWT berfirman dalam QS Qaf 18. Tiada suatu kata pun yang diucapkan manusia melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
Setiap status, komentar, dan unggahan akan dihisab di hadapan Allah SWT.
Dengan bersikap tenang, berpikir jernih, dan menahan lisan (atau tulisan), kita akan selamat dari fitnah dunia maya.
Kuncinya bukan hanya canggih dalam teknologi, tapi kokoh dalam iman dan akhlak.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Az-Zumar 73; Selamat sejahtera atas kalian. Masuklah ke dalam surga, karena kebaikan yang telah kalian lakukan.
(jif/naz)
Editor : Achmad RW