Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.388, Takdir Baik

Rojiful Mamduh • Rabu, 14 Mei 2025 | 12:32 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Radarjombang.id - SAAT ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (8/5), Pengasuh PP Almadienah, Denanyar, KH Muhammad Najib Muhammad, menjelaskan pentingnya mengimani takdir. ’’Semua orang akan dimudahkan menuju takdirnya,’’ tuturnya.

 Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu beliau berkata; Rasulullah Muhammad sallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan,

’’Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama 40 hari.

Kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama 40 hari.

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara.

Yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu meter. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal satu meter. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.

Gus Najib lalu cerita, suatu ketika, Abdullah bin al-Mubarak ibadah haji lalu tertidur singkat di Hijir Ismai.

Beliau mimpi berjumpa Nabi. Dalam mimpi itu Nabi berujar, ’’Saat pulang ke Baghdad nanti, pergilah ke sebuah kampung, carilah orang Majusi (penyembah api) bernama Bahram. Kirimkan salamku untuknya dan sampaikan bahwa Allah rida terhadap dirinya.’’

Usai haji, Abdullah bin Mubarak lalu menemui Bahram yang ternyata seorang Majusi. Usianya sudah tua renta.

’’Apakah Anda memiliki perbuatan yang baik di mata Allah?’’ tanya Abdullah. ’’Saya gemar memberi utang kepada banyak orang dengan pembayaran lebih tinggi.’’

Itu haram karena termasuk riba. Ada perbuatan lain? ’’Anak saya empat putri dan empat putra. Karena sayang menjadi pasangan orang lain, saya jodohkan mereka sesama saudara sekandung.’’ Itu juga haram. Ada lagi? ’’Saat menikahkan putra-putri, saya pakai tata cara pesta Majusi.’’ Itu haram. Perbuatan lainnya?

’’Putri saya cantiknya bukan main. Tak ada satu pun pemuda yang pantas berpasangan dengan dirinya. Sebab itu saya jadikan istri sendiri anak saya itu.’’ Itu juga haram. Ada yang lain?

Bahram lalu cerita pengalamannya memberi makan janda miskin yang memiliki empat anak.

Abdullah bin al-Mubarak menyimpulkan, perbuatan terakhir inilah yang membuat Rasulullah mengirimkan salam khusus kepada Bahram, si Majusi. Mendengar salam Rasulullah, seketika Bahram memutuskan masuk Islam. Setelah membaca syahadat, Bahram tersungkur meninggal dunia.

Sepanjang hidup dia maksiat, namun mati dalam kondisi muslim berkat sedekah. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Kota Santri #Binrohta