Radarjombang.id - SAAT khotbah di Masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (2/5), Ustad Hasanudin, menjelaskan keutamaan bulan Dzulqa’dah. ’’Bulan Dzulqa’dah termasuk empat bulan mulia yang dimuliakan oleh Allah SWT,’’ tuturnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Attaubah 36.
Empat bulan mulia itu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua pahala amal baik di empat bulan itu dilipatgandakan 70 kali lipat. Demikian pula dosa amal buruk juga dilipatgandakan. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang berpuasa tiga hari, Kamis, Jumat dan Sabtu, di bulan mulia akan mendapat pahala seperti ibadah 900 tahun.
’’Dzulqa’dah disebut bulan Selo (perbanyak silo) syukur dan zikir kepada Allah sebagai bekal di akhirat,’’ terangnya.
Orang yang banyak zikir akan diberi Allah SWT hidup yang lapang. Sebaliknya, orang yang tidak zikir maka hidupnya akan penuh kesempitan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Toha 124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Dzulqa’dah termasuk bulan haji yang tiga, Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.
Dzulqa’dah adalah 30 malam yang disebutkan oleh Allah SWT dalam QS Al A’raf 142. Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa alaihissalam untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu 30 malam (Dzulqa’dah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (10 malam pertama Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi 40 malam.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: Di antara tanda keberkahan seorang hamba, ia mengenali waktu-waktu mulia dan mengisi hari-harinya dengan kebaikan. Seorang murid bertanya, ’’Wahai Imam, apakah bulan Dzulqa’dah termasuk waktu yang mulia?’’
Al-Hasan menjawab, ’’Bukankah Allah telah melarang perang di bulan ini? Jika kezaliman dilarang, maka kebaikan lebih utama dilakukan. Barang siapa menyambutnya dengan tobat, maka ia telah menyambut rahmat.’’
Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan radiyallahu anhu sering memperbanyak sedekah diam-diam di bulan Dzulqa’dah. Ia berkata kepada pelayannya: ’’Ini adalah bulan yang Allah muliakan. Maka jangan sampai harta lebih dahulu masuk surga daripada aku.’’
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali berkata: Dzulqa’dah bulan untuk duduk dari dosa dan diam dari maksiat. Maka siapa yang menundukkan dirinya di bulan ini, ia akan dimuliakan di bulan berikutnya, Dzulhijjah. Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata: Dzulqa’dah adalah tempat hamba mengistirahatkan jiwanya dari dunia dan menghadap penuh kepada Rabb-nya. Maka jangan sia-siakan masa ini dengan lalai. Dzulqa’dah adalah waktu yang ideal untuk muhasabah diri dan memperbanyak istigfar. Meningkatkan sedekah dan membantu sesama. Memperbanyak puasa sunah. Menjaga lisan dan menjauhi permusuhan. Serta mempersiapkan diri menyambut bulan Dzulhijjah. Imam Malik berkata; Siapa yang tidak menghormati waktu-waktu mulia, maka ia telah kehilangan kesempatan emas dari langit. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto