Radarjombang.id - SAAT ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (17/4), Pengasuh PP Mambaussalam, Pedes, Kecamatan Perak, KH M Haris Munawir menjelaskan pentingnya menjaga takwa. ’’Takwa yang kita amalkan selama Ramadan harus diteruskan hingga mati,’’ tuturnya.
Kita diperintahkan takwa bukan hanya di bulan Ramadan. Tapi juga setiap saat hingga ajal menjemput. ’’Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 102,’’ terangnya.
Ayat ini menunjukkan bahwa takwa harus senantiasa dijaga hingga akhir hayat, bukan hanya selama Ramadan.
’’Ada empat akhlak yang dilatih dalam Ramadan dan harus kita teruskan,’’ ucapnya.
Pertama kejujuran. Puasa melatih seseorang untuk jujur, karena hanya Allah yang tahu apakah kita benar-benar menahan diri atau tidak. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radiyallahu anhu berkata; Kejujuran adalah tiang agama, siapa yang kehilangan kejujuran, maka hilanglah agamanya.
Baca Juga: Binrohtal 2.373, Hidup Harus Seimbang
Kedua kesabaran. Ramadan disebut juga sebagai bulan kesabaran. Orang yang berpuasa harus menahan diri dari lapar, haus, amarah, dan hawa nafsu. Allah SWT berfirman dalam QS Azzumar 10. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala tanpa batas.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah berkata: Kami mendapati bahwa kesabaran adalah kendaraan terbaik yang tidak akan membuat penunggangnya jatuh.
Sayidina Ali karramallahu wajhah berkata; Tiada iman bagi orang yang tidak sabar. Maksudnya, orang beriman harus sabar.
Orang yang fakir iman akan fakir kesabaran sehingga mudah kufur. Nabi bersabda; Hampir-hampir kefakiran itu menyebabkan kekufuran.
Baca Juga: Binrohtal 2.372, Kiat Salat Khusyuk
Ketiga kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Melalui puasa dan zakat fitrah, hati kita dilatih untuk peka terhadap penderitaan fakir miskin. Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi saat Ramadan. Nabi bersabda; Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa itu.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: ’’Iman itu bukan angan-angan, tetapi apa yang mantap dalam hati dan dibenarkan oleh amal.’’
Keempat menjaga pola hidup sehat dan disiplin. Ramadan mendidik kita untuk hidup teratur: Waktu sahur, berbuka, ibadah malam, dan menghindari makan berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 31. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Imam Asy-Syafi’i berkata: Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena kenyang membuat tubuh berat, hati menjadi keras, tidur menjadi panjang, dan membuat seseorang lalai dari ibadah.
Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang zuhud dan adil, tetap menjalani hidup sederhana meski menjadi penguasa. Ramadan tak mengubah kehidupannya—karena setiap hari baginya adalah ibadah. Ketika ditanya bagaimana ia bisa konsisten dalam ketakwaan, ia menjawab:
’’Aku tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, karena aku tidak tahu kapan malaikat maut datang.’’ (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto