RadarJombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya berlari mencapai tujuan.
’’Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku", "dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus,’’ tuturnya mengutip Filipi 3:13,14.
Ayat di atas adalah salah satu kebenaran yang memberikan dorongan yang kuat bagi saya pribadi untuk menyadari dan memperhatikan setiap langkah perjalanan hidup yang Tuhan percayakan.
Baca Juga: Renungan Minggu 239 , Bertandinglah dengan Tekun
Sejauh mana saya sudah melangkah dan apakah sudah berjalan dalam tujuan yang sesungguhnya.
Orang yang bijak adalah orang yang bisa melihat bagaimana ia menjalani hari-hari hidupnya dan bagaimana ia mengisinya.
Ada banyak orang yang hidup tanpa tujuan yang pasti ke depannya dengan satu ungkapan yang sering terdengar, "mengalir saja".
Sehingga tidak ada satupun yang dapat dipakai untuk mengetahui sejauh mana ia sudah mencapainya.
Dan tidak sedikit juga yang hanya melihat ke belakang, kepada masa lalunya apakah itu sebuah keberhasilan maupun kegagalan.
Dimana kita mendengar perkataan yang diucapkan: "dahulu", dan terus lagi "dahulu".
Ketika waktu yang lalu hidup dalam keberhasilan, begitu sangat puas dan sayangnya tidak ingin mendapatkan hal-hal yang lebih baik lagi.
Hanya mereka yang memiliki tujuanlah yang menjalani kehidupan dengan semangat/gairah.
Baca Juga: Renungan Minggu 237, Kebaikan Jangan Diputar Balikkan
Tanpa tujuan setiap orang akan menjalani hari, minggu, bulan bahkan tahun dengan bermalas-malasan.
Tujuan adalah "seperti bahan bakar dalam hidup ini yang sanggup menggerakkan dan memaksimalkan apapun yang ada dalam diri seseorang".
Dalam hidup ini kita selalu memiliki tujuan dan hal itu biasanya "diawali dengan sebuah keputusan".
Setiap orang punya targetnya sendiri. Dengan satu harapan yang baru untuk hidup lebih baik lagi.
Ada tujuan-tujuan mulia yang ingin dicapai supaya hidup lebih bermakna.
Namun satu hal yang harus kita pastikan, "apakah tujuan tersebut berpusat pada Kristus atau justru berpusat pada diri sendiri".
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengungkapkan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu "panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus".
Paulus tidak mengejar kekayaan, kehormatan, popularitas, maupun kebahagiaan yang semu. Dia mengejar panggilan Allah di dalam Kristus Yesus.
Baginya, panggilan Allah bukanlah suatu beban tanggung jawab lagi yang menyusahkan, "melainkan sebuah hadiah".
Sebuah keistimewaan karena boleh bekerja melayani Allah yang hidup.
Demikian yang juga jadi pengalaman rohani hidup saya, makin hari makin semangat dan bergairah mengerjakan panggilan surgawi.
Sekalipun adakalanya menghadapi berbagai masalah dan ujian, sukacita Tuhan memberikan kekuatan yang baru senantiasa.
Diawal ketika mengambil keputusan sempat ada rasa khawatir, namun berjalannya waktu makin memahami panggilan-Nya membuat makin teguh dan bergairah melayani Tuhan.
’’Setiap orang percaya tidak hanya dipanggil untuk percaya saja, melainkan juga "untuk melakukan pelayanan dalam Kerajaan Allah," Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto