Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.363: Menjaga Spirit Ramadan

Anggi Fridianto • Jumat, 11 April 2025 | 02:14 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Radarjombang.id - SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (31/3), Pengasuh PP Tahfidzul Quran Darul Hikam Mancar Peterongan Ustad Abu Mansur Alhafiz menjelaskan pentingnya menjaga spirit Ramadan.

’’Ibadah-ibadah Ramadan mestinya menjadi karakter atau tabiat dalam jiwa sehingga ketika Ramadan sudah pergi, kebiasaan ibadah sudah melekat di jiwa kita,’’ tuturnya.

’’Orang yang rajin beribadah di bulan Ramadan tetapi setelah Ramadan pergi orang itu kembali menuruti hawa nafsunya, alias Ramadan  tidak membekas di jiwanya, seperti halnya orang-orang  yang membangun istana  di surga lalu merobohkannya kembali,’’ tambahnya.

Ramadan mendidik untuk lebih sabar. Sabar dalam taat maupun menjauhi maksiat, juga sabar ketika menghadapi kesulitan. Ramadan membentuk manusia yang saleh.

Seperti puasa di siang hari, membaca Alquran, beristigfar, berdoa, berinfaq serta bersedekah.  Semua itu harus terus kita laksanakan setelah Ramadan berlalu.

Orang yang hanya banyak beribadah di bulan Ramadan, maka dia dikhawatirkan menjadi hambanya Ramadan, bukan hamba Allah SWT. Di bulan Ramadan maupun bulan-bulan yang lain, kita merupakan hamba Allah SWT. Sehingga di bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya, kita tetap harus memperbanyak ibadah.

’’Jangan seperti yang disindir dalam QS Annahl 92; Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,’’ terangnya. 

Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga konsistensi dalam amal baik. Ini mengajarkan pentingnya untuk tidak kembali ke kebiasaan buruk atau kesalahan setelah kita berhasil menjalani ibadah puasa dengan penuh kesungguhan.

Idul Fitri merupakan kemenangan spiritual yang seharusnya mengarah pada perubahan hidup yang lebih baik. Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri, sabar, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Setelah berpuasa, kita seharusnya merasa termotivasi untuk terus menerapkan nilai-nilai positif yang telah kita latih selama bulan Ramadan, seperti kesabaran, keikhlasan, dan kedisiplinan.

Namun, seperti yang diingatkan dalam ayat tersebut, banyak di antara kita yang sering kali lupa untuk menjaga kualitas amal setelah Ramadan berlalu.

Kita kembali kepada kebiasaan lama yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita tanamkan selama sebulan Ramadan.

Ini adalah bentuk ketidakkonsistenan yang harus kita hindari. Idul Fitri harus menjadi momentum untuk memulai perubahan yang lebih baik dalam diri kita, bukan hanya sebagai sebuah titik akhir dari usaha kita untuk menjadi lebih baik.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa yang berbuat kebaikan pada suatu waktu, maka dia harus melanjutkan kebaikannya. Dan barang siapa yang berbuat keburukan, maka dia harus segera bertobat.

Sayidina  Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata; Orang yang tidak bisa istiqamah pada amal baiknya berarti amalnya belum diterima oleh Allah SWT.

 Ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah bukanlah perkara sekali jalan, tetapi harus terus dilakukan dengan tekun dan konsisten. (jif/naz/ang)

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #polres jombang #Binrohtal