RadarJombang.id - Ustad Muhammad Nur Iskandar dari PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, menjelaskan pentingnya menjaga lisan.
Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (14/1),
’’Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,’’ tuturnya mengutip Quran Surat Al Ahzab 70.
Ayat ini menunjukkan bahwa perkataan yang benar dan baik merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Allah SWT mengingatkan agar kita berbicara dengan penuh kebenaran dan kejujuran.
Pada Surat Al-Isra ayat 53 Allah SWT berfirman: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik.
Sesungguhnya setan itu menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengucapkan perkataan yang baik.
Perkataan yang baik bisa mendamaikan hati, mempererat hubungan, dan menghindarkan dari fitnah serta perpecahan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Ini mengajarkan kita untuk memilih kata-kata yang baik atau jika tidak mampu mengucapkan yang baik, maka lebih baik diam.
Keheningan lebih baik daripada berkata-kata yang bisa menyakiti orang lain atau menimbulkan masalah.
Nabi bersabda; Barang siapa yang bisa menjaga dua perkara, lisan dan kemaluannya, maka aku jamin surga baginya.
Ali bin Abi Talib radiyallahu anhu berkata: Lisanmu adalah harimaumu. Jika engkau tidak dapat menguasainya, maka ia akan memakanmu.
Saat Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW melihat golongan orang yang berkuku panjang dan terbuat dari tembaga. Mereka mencakar-cakar mukanya sendiri dengan kuku tersebut.
Jibril berkata, mereka adalah orang-orang yang mengumpat perbuatan orang lain, tetapi mereka melakukan perbuatan tersebut.
Nabi melihat orang yang lidah dan mulutnya dipotong dengan gunting besi. Setelah dipotong, mulut dan lidah mereka tumbuh seperti semula dan dipotong lagi. Mereka para dai yang tidak mengamalkan ucapannya.
Nabi melihat seekor sapi yang keluar dari lubang kecil. Namun, sapi itu tidak mampu kembali masuk ke lubang tersebut karena terlalu besar.
Jibril berkata, itu perumpamaan bagi orang yang melakukan provokasi sehingga menimbulkan masalah yang besar.
Saat tersadar akan ulahnya, ia tidak mampu menyelesaikan masalah besar tersebut. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW