Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cuplikan Surat Al-Ma'un Tentang Penelantar Anak Yatim Dikutuk Sebagai Pendusta Agama

Rojiful Mamduh • Jumat, 27 Desember 2024 | 15:42 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Radarjombang.id - Fa dzalik al-ladzi yadu’u al-yatim. Penelantar anak yatim dikutuk sebagai pendusta agama, bahkan siapa pemerhati kepadanya, Tuhan akan hadir dengan setumpuk rahmat-Nya yang tak terhingga.

Ada kisah tentang seorang pria yang kesehariannya biasa saja dan ibadahnya sama sekali tidak menonjol. Bahkan, menurut pandangan masyarakat setempat dia suka menenggak minuman keras dan mabuk hingga tengah malam.

Lalu, dia mati. Wajar bila masyarakat setempat ogah-ogahan hadir ke rumah duka, apalagi merawat janazahnya.

Bahkan tidak satupun yang sudi memandikan. Namun, tiba-tiba datang rombongan lelaki berpakaian rapi dengan seragam jubah putih yang melambangkan orang-orang saleh. Mereka geruduk-geduruk datang ke rumah duka.

Lalu merawat janazah tersebut hingga tuntas. Termasuk memandikan, mensalati dan mengubur.

 Baca Juga: Mengapa Anak Yatim Harus Dilindungi? Semuanya Dijelaskan Dalam Tafsir Surat Al Maun

Kehadiran rombongan berjubah itu sungguh mengejutkan para tetangga sekitar. Terdorong rasa penasaran, seorang lelaki mendekat dan bertanya: ’’Dari mana kalian?” Yang segera dijawab:

Dari kampung sebelah, tanpa menjelaskan lebih detail nama kampung yang dimaksud. Ditanya lagi: ’’Kok kalian tahu ada orang baru meninggal di sini..?’’

’’Ya, ada suara langit yang membisiki kami, lalu kami ke sini dan ternyata benar..’’

 Baca Juga: Jelang Coblosan Pilkada 2024, KPU Jombang Musnahkan Ratusan Surat Suara Rusak

Mendengar jawaban para tamu tersebut, para tetangga dan orang-orang kampung setempat merasa tersinggung.

Seolah mereka datang untuk merampas kewajiban kifayahnya. Mereka hanya bisa tersinggung, padahal sebelumnya mereka sengaja menelantarkan.

Tujuan masyarakat menelantarkan janazah itu, selain kesepakatan adalah untuk dakwah, memberi sanksi soaial kepada anggota masyarakat secara umum yang suka berbuat buruk, termasuk mabuk-mabukan.

Sekaligus memberi pelajaran agar tidak mencontoh. Tapi keadaan berubah dan menjadi lain.

 

Lalu, mereka mulai meninggikan suara dan menohok kepada para tamu tersebut. ’’Bukannya kami tidak mau merawat janazah si Fulan ini, tapi kami punya aturan tersendiri.

Asal kalian tahu saja, mayit yang kalian rawat ini adalah seorang pemabuk berat dan sangat membandel, citranya sangat buruk di masyarakat dan kami sepakat memberi pelajaran. Makanya para tetangga tak peduli..’’

 Baca Juga: Tafsir Surat Al Maun dan Hubungannya dengan Hadis Berbuat Baik Dengan Tetangga

Tamu berjubah itu terdiam dan segera memanggil istri almarhum untuk mengecek kebenaran sejatinya. ’’Wahai ibu, kemarilah dan ceritakan keseharian kehidupan almarhum. Katakan secara jujur, tegas dan jangan takut.’’

Di depan mereka, si janda almarhum memberi penjelasan. (bersambung, in sya’ Allah).

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #tebuireng #KH Mustain Syafii