RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya menjaga etika dalam berdoa.
Menurutnya puncak kebaikan dalam doa adalah ikhlas yang juga harus tetap beretika.
’’Sayidina Ali karrammallahu wajhah berkata; Dan tidak ada kebaikan dalam doa yang tidak ada keikhlasan di dalamnya,’’ tuturnya.
Kiai Cholil menjelaskan, ada empat etika dalam berdoa. Pertama tadarru yakni merasa rendah dan butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana diperintahkan dalam Quran Surat Al A’raf ayat 55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Kedua khusyuk, yakni mengerti dengan apa yang diminta.
Ketiga yakin dikabulkan. Etika berdoa yang keempat yakni apa yang diminta pantas dengan kondisinya.
’’Pelajar kok berdoa minta mobil, itu tidak pantas. Pelajar yang pantas ya minta sepeda untuk berangkat sekolah,’’ urainya memberi contoh.
’’Syekh Abdul Qadir Aljilani dawuh; Berdoa itu harus yang dimengerti dan dibutuhkan,’’ ungkapnya.
Berdoa harus ikhlas agar bisa menerima, rida dan berprasangka positif atas apapun yang diberikan oleh Allah SWT.
Karena bentuk terkabulnya doa ada tiga. Pertama, diberikan sesuai yang diminta. Kedua, diberikan ganti dengan yang lebih baik menurut Allah SWT bagi orang itu. Serta ketiga, diberikan kelak di akhirat.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya hati adalah wadah, maka yang paling baik darinya adalah yang paling banyak menampung.
Maka ketika kalian meminta kepada Allah SWT, mintalah kepadanya dan kalian yakin akan dikabulkan.
Karena sesungguhnya Allah SWT tidak mengabulkan doa orang yang berdoa dari hati yang lalai.
’’Hati diibaratkan wadah. Wadah yang paling baik yakni yang besar karena bisa menampung banyak. Hati yang baik adalah yang luas seperti samudra, bisa menampung apa saja,’’ terangnya.
Air yang sedikit, kena najis sedikit sudah berubah status menjadi tidak bisa mensucikan. Berbeda dengan air samudra yang banyak, kena najis banyak pun tetap bisa mensucikan.
Air sedikit dilempar batu kecil sudah beriak. Sedangkan air samudra yang banyak, dibom pun tidak bisa mengguncangkan seluruhnya.
Hati yang dangkal juga seperti itu, kena masalah sedikit atau dapat nikmat sedikit, sudah berpaling dari Allah SWT.
Sebaliknya, hati yang luas kena masalah sebesar apapun dan dapat nikmat sebesar apapun, tetap teguh menghadap Allah SWT. Sehingga bisa selalu sabar, syukur dan rida.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke hati, maka hati akan seluas samudra. Sehingga bisa selalu ikhlas dalam berdoa. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW