Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Amal dan Ikhlas Laksana Tubuh dan Ruh, Begini Penjelasannya

Rojiful Mamduh • Kamis, 28 November 2024 | 01:24 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - Mudir Ma’had Aly Tebuireng, Dr KH Achmad Roziqi, menjelaskan pentingnya ikhlas.

 ’’Kualitas ibadah kita ditentukan sejauhmana kita ikhlas,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (21/11), 

Menurutnya, jika perbuiatan diibaratkan manusia, amal ibarat jasad sedangkan ruhnya adalah ikhlas. 

 ’’Ibadah adalah kata kunci di saat kita mencari jawaban kenapa kita diciptakan,’’ terangnya.

Allah SWT sebagai Sang Pencipta telah menetapkan hal itu dalam firmanNya di Quran Surat Azzariyat ayat 56:

’’Hanyalah agar beribadah kepadaKu, jin dan manusia Aku ciptakan. Bukan yang lain,’’ tegasnya.

Ibadah yang telah diajarkan oleh Sang Kholiq dari satu umat hingga umat lainnya memiliki landasan yang sama, yaitu senantiasa memurnikan niat dan tujuan dalam ibadahnya hanya kepada Allah SWT, bukan selainNya.

Inilah yang disebut ikhlas. Hal tersebut bisa kita tangkap dalam firmam Allah SWT Quran Surat Albayinah ayat 5.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Syekh Nawawi al Bantani dalam Maroh Labid menafsiri ayat di atas sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu hanyalah dituntut untuk beribadah kepada Allah secara murni, tidak pamer dan tidak pula ingin meraih pujian.

Beribadah secara murni, tidak pamer dan tidak pula ingin meraih pujian. Itulah makna yang bisa kita ambil dari Imam al Jurjani ketika mendefenisikan ikhlas dalam karyanya, al Ta'rifat. Beliau dawuh: Ikhlas adalah tidak mencari saksi selain Allah untuk amalmu.

Ini berarti bahwa setiap tindakan atau amal yang kita lakukan haruslah semata-mata untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian atau perhatian dari orang lain.

Keikhlasan mengajarkan kita untuk melakukan kebaikan hanya demi mendapatkan rida Allah SWT, bukan untuk dilihat atau diakui oleh makhluk-Nya.

Allah adalah satu-satunya saksi yang kita perlukan, dan Dia mengetahui niat serta tujuan di balik setiap perbuatan kita.

’’Orang yang paling ikhlas tentu Hadrotur Rosul Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ jelasnya. Setelah Nabi barulah manusia-manusia pilihan yang lain, di antaranya para sahabat. Salah satunya Sayidina Abu Bakar radiyallahu anhu.  

Salah satu potret keikhlasan Abu  Bakar saat membeli sahabat Bilal radiyallahu anhu ketika disiksa oleh tuannya lantaran tidak mau menanggalkan iman kepada Allah SWT. Setelah membelinya, Abu Bakar memerdekakan Bilal.

Orang-orang musyrik menilai miring hal itu. Mereka berkata: Abu Bakar melakukan ini tentulah karena balas jasa.

Pernyataan ini dibantah oleh Allah dengan menurunkan firmanNya Quran Surat Al Lail ayat 19 dan 20.

Oleh Syekh Nawawi ayat tersebut ditafsiri; Tidaklah Abu Bakar membeli dan memerdekakan Bilal karena membalas jasanya. Tidak. Hal ini dilakukan hanyalah karena mencari rida Allah SWT.

’’Dengan ikhlas, sejatinya kita sadar betul bahwa apapun yang kita lakukan sejatinya dari Allah dan kita mampu melakukannya pun karena pertolongan dan bimbingan Allah, dan setelah itu pun Allah masih memberikan pahalanya untuk kita. Apakah masih tersisa alasan bagi kita untuk tidak ikhlas?’’ urainya. (jif/naz)

 

Editor : Achmad RW
#tubuh #ikhlas #amal #Ruh #Binrohtal