Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Toriqoh 325: Delapan Bentuk Puncak Kebaikan Menurut Sayyidina Ali

Rojiful Mamduh • Selasa, 19 November 2024 | 14:05 WIB
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan puncak kebaikan.

’’Menurut Sayidina Ali karrammallahu wajhah, ada delapan puncak kebaikan,’’ tuturnya.

Pertama, tidak ada kebaikan dalam salat yang tidak ada khusyuk di dalamnya.

’’Puncak kebaikan dalam salat adalah khusyuk. Nilai salat kita tergantung kekhusyukan kita,’’ terangnya.

Allah SWT telah mewahyukan kepada sebagian dari Nabi-Nabinya: Hambaku berikanlah kepadaku dari kedua matamu air mata dan dari hatimu khusyuk.

Kemudian berdoalah karena sesungguhnya aku akan mengabulkan untukmu dan aku adalah yang maha dekat, maha mengabulkan.

Kedua, tidak ada kebaikan dalam puasa yang tidak mencegah dari perbuatan yang sia-sia.

Maksudnya perkataan yang tidak ada manfaat di dalamnya. ’’Puncak kebaikan dari puasa adalah mencegah dari perkataan yang tidak ada manfaatnya,’’ tegasnya.

Ketiga, tidak ada kebaikan di dalam membaca Alquran yang tidak ada tadabbur di dalamnya.

Maksudnya tidak memperhatikan pada hukum-hukumnya. ’’Puncak kebaikan dalam membaca Alquran adalah mengamalkan isinya,’’ ungkapnya.

Keempat, tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak ada wara. Yakni menjaga diri dari perkara-perkara syubhat dan perkara-perkara yang diharamkan.

’’Puncak kebaikan ilmu yakni menjaga diri kita dari hal-hal yang syubhat dan haram,’’ tegasnya.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa menghindari perkara-perkara syubhat maka benar-benar dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya.

Dan barang siapa terjerumus dalam perkara-perkara syubhat maka dia terjerumus dalam perkara-perkara haram.

Kelima, tidak ada kebaikan dalam harta yang tidak ada kedermawanan di dalamnya.

Nabi bersabda: Tidaklah membuka seseorang pada pintu memberi dengan bersedekah atau dengan bersilaturrahmi melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab sedekah atau silaturahmi itu kemakmuran.

Dan tidaklah membuka seseorang pada pintu mengemis yang dia ingin dengan sebab mengemis itu menjadi makmur, melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab mengemis itu ketidak cukupan. ’’Puncak kebaikan dalam harta yakni dermawan,’’ ucapnya.

Keenam, tidak ada kebaikan dalam persaudaraan yang tidak menjaga di dalamnya.

’’Puncak kebaikan dalam persaudaraan yakni menjaga agar saudaranya tidak terjerumus pada dosa dan kemaksiatan,’’ terangnya.

Serta menjaga agar saudaranya tidak dizalimi dan tidak melakukan kezaliman.

Nabi bersabda: Wajib atas kalian menjalin persaudaraan yang tulus karena sesungguhnya persaudaraan yang tulus itu adalah perhiasan di saat lapang dan penjaga di saat ada musibah.

Nabi juga bersabda: Seseorang itu makmur karena saudaranya dan tidak ada kebaikan dalam menemani orang yang tidak melihat padamu dari hak-hak sebagaimana engkau melihat pada haknya.

Hak saudara sesama muslim ada enam. Menjawab salam. Memenuhi undangan.

Menasihati. Mendoakan yang bersin. Menjenguk yang sakit. Serta melayat jenazah. (jif/naz/riz) 

Editor : Achmad RW
#puncak #delapan #Kebaikan #Bentuk 7 Desk Khusus #Toriqoh #Sayyidina Ali