Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tak Hanya Saat Perang, Inilah Pengertian Mati Syahid dan Beberapa Kondisi yang Menyebabkannya

Rojiful Mamduh • Rabu, 23 Oktober 2024 | 14:15 WIB
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan tentang mati syahid.

’’Mati syahid secara istilah itu hanya satu, yakni mereka yang meninggal dalam perang jihad fi sabilillah,’’ tuturnya.

Contohnya para sahabat yang mati di perang Badar dan perang Uhud. Juga para pejuang yang mati dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Jenazah mereka tidak dimandikan dan tidak dikafani. Tetapi langsung disalati kemudian dikubur memakai pakaian bahkan sepatu yang mereka kenakan.

’’Pemakamannya istimewa, nanti di akhirat juga diistimewakan oleh Allah SWT. Mereka akan masuk surga lebih dulu,’’ terangnya.

Sedangkan orang yang mati syahid hakiki, jenazahnya tetap dimandikan, dikafani dan disalati.

Namun kelak di akhirat mereka diistimewakan oleh Allah SWT masuk surga duluan bersama orang-orang yang mati syahid perang fi sabilillah.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang mati syahid hakiki ini ada tujuh.

Pertama, orang yang mati karena sakit perut. Maksudnya, orang yang mati karena penyakit perut seperti penyakit busung air dan penyakit usus.

Kedua, orang yang tenggelam. Yaitu orang yang mati di dalam air dengan sebab tenggelam.

Ketiga, orang yang mempunyai penyakit radang selaput dada. Yaitu radang panas yang menyebar pada selaput bagian dalam yang melapisi tulang rusuk.

Keempat, orang yang terkena wabah. Maksudnya orang yang mati karena wabah.

Kelima, orang yang mati terbakar. Yaitu orang yang terbakar api kemudian dia mati.

Keenam, orang yang mati di bawah reruntuhan. Orang yang mati tertimpa reruntuhan dan orang yang tenggelam syahid jika mereka berdua tidak bisa melarikan diri untuk menyelamatkan diri mereka.

Dan mereka tidak mengabaikan kewaspadaan. Jika mereka berdua lalai dalam kewaspadaan sampai menimpa kepada mereka berdua musibah tersebut, maka mereka berdua termasuk orang yang berdosa.

Ketujuh, wanita yang mati karena melahirkan. Baik anaknya keluar ataupun tidak.

Syekh Nawawi Banten menambahkan beberapa kriteria lain yang termasuk mati syahid.

Yakni orang yang kena TBC. Orang yang terasing. Orang yang demam. Orang yang tersengat. Orang yang dicekik.

Orang yang diterkam hewan buas. Orang yang jatuh. Orang yang mati di atas tempat tidurnya di jalan Allah.

Orang yang dibunuh karena mempertahankan hartanya atau agamanya atau nyawanya atau keluarganya.

Orang yang mati di penjara padahal tidak bersalah, karena dikurung oleh orang zalim.

Orang yang mati karena rindu pada Allah SWT atau rasulullah. 

Serta orang yang mati saat sedang mencari ilmu. Juga orang yang mati saat kerja mencari rezeki halal untuk menafkahi keluarga.

’’Semua orang yang mati saat melaksanakan perintah Allah SWT termasuk syahid hakiki,’’ terangnya.

Baca Juga: Toriqoh 316, Ini Cara Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.

Jika zikir sudah masuk ke hati, maka kapan pun dalam kondisi zikir. Sehingga kapan pun mati dicatat syahid akhirat. (jif/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#mati syahid #Toriqoh #kondisi #Pengertian