Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Fahmi Ungkap Pentingnya Menggabungkan Ikhtiar dan Tawakal dalam Menjalani Hidup

Rojiful Mamduh • Sabtu, 28 September 2024 | 17:42 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya ikhtiar dan tawakal.

’’Dalam hal apapun, kita harus ikhtiar dan tawakal. Berusaha dan berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (26/9).

Gus Fahmi cerita, suatu ketika Nabi Musa alaihissalam pernah mengalami sakit gigi.

Ia sampai mengeluh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saking tak kuat menahan sakinya.

Nabi Musa memohon kepada Allah SWT agar sakit giginya segera sembuh.

Pada saat itu, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk menyembuhkan sakit giginya dengan menggunakan tanaman obat.

’’Ambillah rumput itu dan letakkan di gigimu,’’ perintah Allah SWT kepada Nabi Musa.

Nabi Musa kemudian melaksanakan perintah-Nya dengan memetik tanaman obat dan meletakkannya di giginya yang sedang bermasalah.

Saat itu juga, sakit giginya segera sembuh berkat penggunaan tanaman obat sebagai wasilah.

Beberapa waktu setelahnya, Nabi Musa mengalami sakit gigi lagi. Tanpa mengeluh atau berdoa kepada Allah SWT seperti sebelumnya, ia langsung memetik tanaman obat dan meletakkannya di gigi yang sakit.

Tindakan tersebut dilakukan oleh Nabi Musa dengan keyakinan bahwa tanaman obat itu sebelumnya telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan sakit gigi.

Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, sakit gigi Nabi Musa justru semakin parah.

Nabi Musa bertanya kepada malaikat mengapa sakit giginya tak hilang meskipun sudah banyak daun yang dikunyahnya.

Malaikat mengatakan bahwa dulu ia meletakkan seluruh kepercayaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tapi kali ini Nabi Musa meletakkan kepercayaannya kepada daun.

Di tengah keadaan tersebut, Nabi Musa segera mencurahkan keluhannya dan berdoa kembali kepada Allah.

Kemudian Allah berfirman: Ya Musa, Aku adalah Dzat yang memberi kesembuhan, Dzat yang memberikan kesehatan, Dzat yang memberikan bahaya, Dzat yang memberikan manfaat.

Pada sakit pertama kamu datang menghadap kepada-Ku, maka Aku hilangkan penyakitmu. Kali ini, kamu tidak datang kepada-Ku tapi kamu datang kepada tanaman obat itu.

’’Dari kisah ini, setidaknya dapat diambil dua hikmah,’’ ungkapnya. Pertama, Allah SWT memiliki sifat Jaiz yang memberikan-Nya kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Allah SWT dapat mengangkat atau menurunkan derajat seseorang sesuai kebijakan-Nya.

Allah SWT juga memiliki kuasa untuk menimpakan penyakit atau memberikan kesembuhan kepada siapa pun sesuai dengan kehendak-Nya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Asyuara 80. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.

Kedua, Allah SWT pemilik segala yang ada di langit dan bumi, termasuk kesehatan dan kesembuhan.

Tindakan yang perlu dilakukan oleh umat Islam ketika sakit yakni memohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah SWT melalui doa.

Kita juga wajib melakukan usaha nyata seperti penggunaan obat dan berbagai bentuk terapi.

Sambil meyakini, hal tersebut hanya sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai kesehatan dan kesembuhan. (jif/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#ikhtiar #Tawakal #Binrohtal #Gus Fahmi