RadarJombang.id - Ustad Agung Bahroni menjelaskan tentang sabar dan takdir saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (18/9).
’’Tidak ada takdir buruk, yang ada adalah cara Allah SWT menyelamatkan kita,’’ tuturnya.
Contohnya ketika tiba-tiba sepeda motor kita mogok, padahal kita harus segera hadir di tempat kerja.
’’Nah, bisa jadi Allah SWT sedang menyelamatkan kita. Jika kita terus tanpa mogok, bisa jadi kita mengalami kecelakaan,’’ terangnya.
Seperti gambaran cerita Nabi Musa alaihissalam dan Nabi Hidir alaihissalam yang diterangkan di QS Al Kahfi. Nabi Hidir tiba-tiba melubangi perahu yang dinaiki.
Lalu tiba-tiba membunuh anak kecil. Kemudian bertamu ditolak, tapi malah menegakkan dinding yang hampir roboh di tempat itu.
Di akhir perjalanan, Nabi Hidir lalu menjelaskan semuanya. Semua itu perintah Allah SWT.
Perahu dilubangi agar tidak dirampas penguasa zalim. Karena di daerah itu ada pemimpin zalim yang merampas semua perahu penduduk.
Anak kecil itu dibunuh karena jika dewasa akan membuat orang tuanya kufur. Allah SWT ingin memberi ganti anak yang saleh.
Nabi Hidir menegakkan dinding yang hendak roboh karena dibawahnya ada harta anak yatim.
Orang tuanya yang saleh telah wafat dan berharap harta itu sampai kepada anaknya tatkala sudah dewasa. Makanya dinding ditegakkan agar harta dibawahnya tidak diambil orang lain.
’’Banyak hal yang mungkin tidak enak, tidak baik, tapi itulah yang terbaik,’’ tegasnya.
Ustad Agung menjelaskan, ada tiga macam sabar. Pertama, sabar atas musibah. Kedua, sabar dalam menjalani ketaatan.
Ketiga, sabar atau menahan diri dari melakukan kemaksiatan. Sabar yang terakhir adalah sabar dengan tingkatan tertinggi.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu menghadapinya dengan sebaik mungkin, maka Allah SWT akan mengangkatnya 300 derajat.
Satu derajat dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah SWT mengangkat 600 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas ketinggian ‘arsy.
Sedangkan yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah SWT mengangkat 900 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas ketinggian ‘arsy.
Hidup sebagai makhluk sosial membuat kita tidak pernah lekang dari salah dan khilaf. Kalau bukan disakiti—sadar atau tidak—kita pernah menyakiti orang lain.
Dalam hal ini, agama mengajarkan agar yang menyakiti meminta maaf, dan yang disakiti supaya bersabar sekaligus memberi maaf. Ini adalah pedoman terbaik kita sebagai makhluk sosial.
Imam al-Hasan pernah menasihati’ Wahai umat manusia, jangan sekali-kali menyakiti yang lain. Namun, bila kau disakiti maka bersabarlah.
Kesabaran sangat erat kaitannya dengan kesadaran. Bila benar-benar menyadari tabiat kemanusiaan kita yang tak lepas dari salah dan lupa.
Juga hakikat penciptaan kita yang senantiasa bersujud kepada sang Maha Pengampun lagi Penyayang, maka tiada alasan untuk tidak bersabar.
Baca Juga: Penghafal Alquran di Jombang Bakal dapat Insentif Tahun 2024, Ini Syarat dan Nominalnya
Imam Ibrahim at-Taimiy mengatakan: Setiap kali Allah SWT menganugerahi kesabaran pada hamba-Nya, baik atas rasa sakit, malapetaka, dan musibah, pasti juga memberinya yang lebih baik dari keimanan itu sendiri.
Mempertahankan keimanan jauh lebih penting dari pada keimanan itu sendiri. Segala bentuk kesusahan dan derita yang dirasakan umat adalah ujian keimanan dari Allah SWT.
Iman yang hakiki yaitu iman yang tak lekang waktu, tempat dan kondisi; suka ataupun duka, lapang atau sempit.
Sayidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata; Sungguh, tiada iman bagi yang tak memiliki kesabaran.
Imam al-Husain bin Abdurrahman berkata; Bila engkau tak berlapang dada menghadapi segala urusan, tentu akan mempersulit dirimu. Maka lapangkanlah dadamu dan permudahlah setiap kesulitan.
Belum pernah kutemukan hal yang paling komplet untuk menghadapi malapetaka selain takwa. Belum juga kudapati sesuatu yang paling ampuh mengobati kebencian selain sabar. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW