Radarjombang.id - Saat khotbah di Masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (13/9), KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan pentingnya merayakan maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
’’Bertemu dengan bulan maulid adalah anugerah sangat luar biasa. Maulid ini momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita dengan sebenar-benarnya,’’ tuturnya.
Nikmat agung yang telah Allah SWT berikan kepada kita yakni dipilih untuk menjadi umat baginda Rasul Muhammad SAW.
’’Banyak keistimewaan umat Rasulullah yang tidak diberikan kepada umat nabi-nabi sebelumnya,’’ terangnya.
Pertama, Allah SWT tidak akan mengazab umat Nabi selama mereka membaca salawat dan melaksanakan sunah-sunah Nabi.
Baca Juga: Binrohtal 2.208, Jangan Remehkan Keberkahan Guru Ngaji
Kedua, Allah SWT tidak akan mengazab umat Nabi selama mereka meminta ampun membaca istigfar.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Anfal 33.
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.
Ayat ini memberi gambaran, jika kita bisa menghadirkan Rasulullah dalam kehidupan kita, maka Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan menurunkan bala dan azab kepada kita.
’’Ada tiga cara menghadirkan Rasulullah di kehidupan ini,’’ terangnya.
Pertama, dengan istiqamah terus menerus menghidupkan sunah-sunah Rasul.
Ini berdasar hadis riwatar Attirmidzi; Barangsiapa menghidupkan sunahku maka ia benar-benar menghidupkan aku dan barang siapa menghidupkan aku maka ia bersamaku di surga.
Kedua, cara menghadirkan Rasulullah dengan memperbanyak salawat dan salam penghormatan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab 56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bersalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.
Ketiga, menghadirkan Rasulullah dalam segala amaliah ubudiyah kita. Apapun profesi kita, apapun pekerjaan kita, dimanapun kita berada, ketika menghadapi sesuatu, kita harus berpikir dan mengambil sikap dengan cara Rasullullah.
Andaikan Rasulullah di sini, saat ini, maka yang dilakukan beliaunya apa?
Jika ini kita terapkan, pastilah yang terbaik yang kita lakukan.
Sayyid Alwi al-Maliki cerita, beliau pernah menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid.
Sayyid Alwi pun memanggilnya, ’’Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal maulid?’’
Orang itu lalu cerita. Ia dulu pernah berjanji tidak berdiri saat menghadiri sebuah Maulid Nabi. Termasuk saat mahallul qiyam, momen di saat jamaah berdiri senrentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah.
Sebab menurutnya, hal itu bid’ah.
Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen mahallul qiyam, ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar; ’’Kamu tak usah berdiri, kamu duduk saja di tempatmu’’
Orang itu ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itu dia lumpuh tak bisa berdiri.
Sehingga dia bernazar, jika Allah SWT menyembuhkannya, maka dia berjanji setiap ada maulid akan berdiri dari awal maulid hingga akhir.
Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT dia diberi kesembuhan. Sayyid Alwi pun mempersilakan orang tersebut melaksanakan nazarnya. (jif/naz)
Editor : Achmad RW