RadarJombang.id – Pendidikan muatan lokal (mulok) pendidikan diniyah terus ditingkatkan.
Pemkab Jombang tahun 2024 ini mengalokasikan anggaran mencapai Rp 1 miliar untuk proyek pengadaan mulok dan buku diniyah SD itu.
Dananya, diambil dari APBD perubahan 2024 untuk pengadaan buku pendidikan diniyah serta buku bacaan lainnya bagi siswa sekolah dasar (SD).
”Selama ada program mulok (muatan lokal) pendidikan diniyah di Kabupaten Jombang, siswa SD memang belum memiliki buku diniyah dari dinas P dan K. Semua sekolah masih menggunakan kitab,” kata Plh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Wor Windari.
Ia mengatakan, anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pengadaan buku diniyah saja, tapi juga untuk buku bacaan SD.
”Buku bacaan untuk semua sekolah untuk judulnya apa saja ini masih berproses, sedangkan untuk buku diniyah untuk semua kelas, dan untuk semua siswa SD,” katanya.
Buku pendidikan diniyah disusun oleh tim. Anggota tim terdiri dari unsur guru PAI dan pembimbing diniyah.
”Setelah jadi, nanti akan dilakukan verifikasi oleh pondok pesantren yang ditunjuk,” imbuhnya.
Wor mengatakan, buku itu nantinya bukan jadi hak milik, melainkan dipinjamkan kepada siswa.
”Harus dikembalikan ketika naik kelas untuk dipinjamkan kembali kepada adik kelasnya,” imbuhnya.
Nabilah, pembimbing diniyah di SDN Spanyul, Kecamatan Gudo mengatakan, selama ini ia mengajar dengan menggunakan kitab yang telah ditentukan oleh dinas P dan K Jombang.
Baca Juga: Wakil Rakyat di Jombang Ini Minta Pemkab Kaji Ulang Proyek Pecah Rekor MURI Jaranan Dor
”RPP yang menyusun dinas, kitab ditentukan dinas setiap kelas beda kitab,” katanya.
Pembelajaran diniyah di SD menurutnya masih di tingkat yang paling dasar.
Untuk kelas bawah, ia masih fokus mengenalkan penulisan huruf pego kepada siswa.
Namun di kelas atas, aplikasi huruf pego untuk maknani masih belum maksimal.
Karena kitab yang ada sifatnya dipinjamkan, maka tidak boleh dicoret-coret agar ketika nanti dipinjam adik kelas masih bagus.
Sedangkan untuk maknani, dilakukan langsung di buku.
”Jadi kadang saya fotokopikan, untuk bisa dicoret-coret, itupun kadang saya tidak bahasa Jawa full, masih campuran bahasa Indonesia karena anak-anak banyak yang belum mengerti dan bingung,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW