Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rebo Wekasan, Inilah Beberapa Larangan dan Pantangan yang harus Dihindari Agar Terhindar Bala

Achmad RW • Rabu, 4 September 2024 | 00:19 WIB
Rebo Wekasan dan pantangan yang harus dihindari
Rebo Wekasan dan pantangan yang harus dihindari

RadarJombang.id - Rebo wekasan, adalah salah satu hari paling sakral bagi umat islam Jawa.

Rebo Wekasan jatuh pada Rabu terakhir di bulan Safar, dan diyakini bahwa pada hari tersebut, Allah menurunkan sekitar 320.000 jenis bencana setiap tahunnya.

Karena itulah, Rebo Wekasan dikenal sebagai "hari bala," dan masyarakat Jawa menerapkan beberapa larangan dan pantangan yang masih dipatuhi hingga kini.

Tahun 2024 ini, Rebo Wekasan, akan jatuh pada 24 September 2024.

Inilah beberapa Larangan dan Pantangan Rebo Wekasan:

1. Dilarang Menikah

Salah satu larangan yang paling terkenal saat Rebo Wekasan adalah tidak boleh melangsungkan pernikahan.

Masyarakat Jawa percaya bahwa Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari yang tidak baik untuk pernikahan karena hari sial.

Salah satu wilayah yang mempraktikkannya, yakni Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Penelitian yang dilakukan oleh Zainul Mustofa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa masyarakat setempat menganggap Rabu Wekasan sebagai hari sial.

Menurut Kiai Istighfar, keyakinan ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Hingga kini, warga desa tersebut masih enggan mengadakan pernikahan pada hari ini karena dianggap membawa kesialan.

2. Dilarang Bepergian Jauh

Larangan lainnya adalah tidak boleh bepergian jauh selama Rebo Wekasan.

kebanyakan masyarakat di Cirebon masih memegang teguh keyakinan tersebut.

Mereka menyebut Rabu terakhir di bulan Safar sebagai "wulan sing akeh sial" atau bulan yang penuh dengan kesialan.

Untuk menghindari marabahaya, warga Cirebon biasanya berkumpul dan berdoa bersama agar terhindar dari bencana.

Sebagai tambahan, mereka juga melaksanakan salat empat rakaat dengan bacaan tertentu:

Surat Al-Kautsar 17 kali di rakaat pertama, Al-Ikhlas lima kali di rakaat kedua, Al-Falaq di rakaat ketiga, dan Surat An-Nas di rakaat keempat.

Salat ini diakhiri dengan doa Asyura.

3. Dilarang Melakukan Pekerjaan Berbahaya

Pantangan terakhir yang diyakini saat Rebo Wekasan adalah tidak boleh melakukan pekerjaan yang berbahaya. Keyakinan ini juga masih hidup di kalangan masyarakat Cirebon.

Larangan ini dimaksudkan agar masyarakat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan pada hari yang dianggap penuh risiko ini.

Sebagai gantinya, warga dianjurkan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat, seperti bersedekah kepada anak yatim dan kaum jompo atau menjalin silaturahmi.

Selain itu, di Cirebon juga ada tradisi mandi di sungai yang dikenal sebagai Ngirab.

Tradisi ini dipercaya dimulai oleh Sunan Kalijaga dan kemudian diikuti oleh masyarakat setempat.

Pada pagi hari, anak-anak biasanya berkeliling dari rumah ke rumah sambil menyenandungkan lagu "wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur," yang berarti "Bu, bagikanlah sesuatu kepada kami semoga selalu sehat dan panjang umur."

Meski demikian, kepercayaan ini lebih bersifat kultural daripada ajaran agama, sehingga keyakinannya bisa berbeda-beda di setiap daerah. (riz)

Editor : Achmad RW
#larangan #rebo wekasan #Bala #Rabu wekasan #Pantangan