Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.197, Kisah Tentang Keutamaan Hari Asyuro di Bulan Muharram

Rojiful Mamduh • Selasa, 16 Juli 2024 | 12:54 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - Anggota Komisi Dakwah MUI Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan keutamaan 10 Muharram yang biasa disebut hari Asyuro.

 

Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (15/7)

’’Bulan Muharram adalah bulan yang mulia. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah karena pahalanya dilipatgandakan. Utamanya pada 10 Muharram,’’ tuturnya.

Gus Anam lalu mengutip kitab Tanbihul Ghofilin karya Imam Abi Laits as-Samarqandi.

’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa puasa di hari kesepuluh Muharram atau hari Asyuro', maka akan diberi pahala 10.000 malaikat, 10.000 orang haji umrah dan 10.000 orang mati syahid,’’ terangnya.

Pada hari Asyuro kita juga dianjurkan menyantuni anak-anak yatim.

’’Nabi bersabda; Barangsiapa menguasapkan tangannya di kepala anak yatim pada hari Asyuro', Allah SWT akan mengangkat derajatnya setiap satu rambut satu derajat,’’ jelasnya.

Suatu hari, bertepatan hari Asyuro, ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah Qadi (hakim).

Ia harus berjalan jauh melewati padang pasir demi anak-anaknya yang beberapa hari tidak makan.

Tiba di rumah Qadi, ia pun menceritakan keadaannya.

’’Saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga. Hari ini bertepatan 10 Muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,’’ kata si fakir.

’’Iya Pak, nanti siang anda ke sini lagi,’’ jawab Qadi.

Ia lalu pulang ke desa. Anak-anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira.

Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa.

’’Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana.’’

Siangnya, si fakir kembali menemui Qadi dan mendapat jawaban sama. ’

’Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,’’ jawab Qadi.

Jawaban tersebut terulang lagi ketika sore harinya si fakir menemui Qadi

Merasa sedih dan tidak berdaya, ia pun berdoa kepada Allah SWT.

’’Ya Allah! Mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!’’

Ia pun pulang dengan langkah gontai. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk.

’’Kenapa menangis, Pak?’’ tanya Saiduk.

Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba.

’’Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?’’ tanya Saiduk.

’’10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,’’ jawab si fakir.

’’Kalau begitu, saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta,’’ jawab Saiduk.

Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir.

Hal ini membuat si fakir bahagia. Ia pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, karena membawa sejumlah makanan dan uang.

’’Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,’’ ungkap anak-anaknya.

Malam harinya, tuan Qadi bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif).

’’Angkat kepalamu!’’ Dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak. ’’Ini untuk siapa?’’ tanya Qadli.

’’Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,’’ jawab hatif.

Esok harinya, si Qadi bergegas menuju rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam.

’’Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?’’ tanya Qadi.

Saiduk pun menceritakan tentang si fakir. ’’Baiklah Saiduk, apa yang kau berikan saya ganti 100.000 dirham,’’ kata Qadli.

Namun Saiduk menolaknya. Karena semalam dia juga telah mimpi yang sama.

Baca Juga: Binrohtal 2.190, Pentingnya Muhasabah dan Introspeksi Diri di Akhir Tahun

’’Tuan Qadi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan," ucapnya.

"Sekarang saksikan; Ashadu an la ilaha illa Allah wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah,’’ ucap Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah SWT menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya. (jif/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#muharram #keutamaan #asyuro #Binrohtal