RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, Jombang sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya takut pada dunia.
Jangan sampai dunia membuat kita tertipu dan lengah dari akhirat.
Termasuk kesenangan dunia yang sering membuat kita lalai yakni bepergian.
’’Orang yang bepergian, biasanya tidak bisa mengamalkan amalan-amalan yang rutin dilakukan di rumah,’’ tuturnya.
Misalnya tiap usai salat biasanya wiridan. Saat bepergian, biasanya tidak wiridan.
Di rumah rutin baca Alquran, karena bepergian akhirnya tidak baca Quran.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Assafar qit’atun minal azab.
Bepergian itu bagian dari azab. Karena seseorang yang melakukan perjalanan akan tersiksa (terganggu) makan, minum, dan tidurnya.
Makanya agama memberikan keringanan bagi orang yang menempuh perjalanan.
Mereka dibolehkan tidak berpuasa Ramadan. Boleh menjamak salat Duhur dan Asar serta Magrib dan Isya.
Serta boleh mengqasar salat yang awalnya empat rakaat menjadi cukup dua rakaat.
Baca Juga: Toriqoh 303, Enam Hal Tersembunyi dalam Enam Hal Lain
Perjalanan itu menyingkap sifat asli manusia dan menampakkan akhlak seseorang.
Sesungguhnya dikatakan safara-asfara (terang atau terbit) sebagaimana dalam QS Al-Muddassir 34 karena perjalanan menampakkan perilaku (akhlak) asli seseorang.
Orang yang ketika sedang melakukan perjalanan mengalami kesusahan dan keletihan namun ia tetap berakhlak baik, maka ketika dia sedang tidak melakukan perjalanan, dipastikan ia juga berakhak baik.
Orang yang dipuji perilakunya ketika tidak melakukan perjalanan.
Serta dipuji perilakunya oleh teman seperjalanan. Maka dapat dipastikan dia benar-benar orang baik.
Ketika seseorang merekomendasikan temannya kepada sahabat Umar bin Khattab radiyallahu anhu, Umar bertanya: Apakah engkau pernah melakukan perjalanan bersamanya? Jika jawabannya belum pernah, maka Umar akan mengatakan: Engkau belum tahu banyak tentang orang itu.
Perjalanan adalah ujian dan pembuktian. Orang yang benar-benar sabar dan berakhlak baik, maka dia akan tetap sabar dan berakhlak baik dalam perjalanan.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke hati, maka dalam perjalanan pun akan bisa ingat Allah SWT.
Kiai Cholil lalu cerita KH Romly Tamim. Setiap melakukan perjalanan dan melewati kuburan, selalu baca Fatihah.
Sehingga dalam sekali perjalanan membaca Fatihah berulang kali. Ini contoh bahwa dalam perjalanan beliau selalu ingat Allah SWT. (jif/naz)
Editor : Achmad RW