Oleh Muhsin Labib Ahmad Abidin, kelas X-H MA Aliyah Madrasatul Qur'an Tebuireng
Radarjombang.id - Kamis (23/05) bakda Magrib di Masjid Agung PP Madrasatul Qur'an Tebuireng, Gus Galih selaku menantu pengasuh, KH Abdul Hadi Yusuf Alhafiz, menjelaskan peranan santri.
’’Saat terjun ke masyarakat, santri juga harus menjadi agent of change (agen perubahan), tidak hanya mahasiswa saja,’’ tuturnya.
Pesantren sering mendapat stigma negatif yang beranggapan bahwa santri tak layak untuk terlibat dalam berbagai sistem kepemimpinan.
Masyarakat beranggapan, pesantren tak jauh beda dengan sekolah biasa.
Individu yang terperangkap di lingkup pondok, dianggap takut saat berhadapan langsung dengan masyarakat.
Stigma tersebut tidaklah benar. Justru pendidikan pesantrenlah yang banyak mendukung anak didiknya untuk lebih matang, tampil langsung di masyarakat.
Organisasi yang ada sejak di lingkup kamar, komplek hingga pesantren mendorong para santri untuk belajar kepemimpinan.
Mengasah jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab. Ditambah dengan adanya pendidikan agama, membuat santri semakin amanah di masyarakat.
Tak hanya itu, kebersamaan yang mengharuskan santri untuk terus berinteraksi, membuatnya mudah memahami perasaan dan aspirasi orang lain.
Beragamnya peranan santri, harusnya lebih banyak mewarnai masyarakat. Serta berkontribusi besar untuk kepentingan bangsa dan negara. Juga ikut berperan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Anggi Fridianto