Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 193, Tinggalkanlah Panas Hati dan Kemarahan

Rojiful Mamduh • Minggu, 26 Mei 2024 | 18:11 WIB
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan

RadarJombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya meninggalkan marah.

’’Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan,’’ tuturnya mengutip Mazmur 37:8.

Pernahkah Anda melihat anak nelayan memancing kepiting?

Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil.

Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah.

Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas.

Itulah sebabnya kita sebagai anak Tuhan amarah kita tidak boleh terpancing melihat orang jahat.

Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, 8).

Alasannya, itu hanya akan membawa kita pada kejahatan.

Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk.

Baca Juga: Renungan Minggu 190, Sikap Bersungut-Sungut Ternyata Sangat Tidak Menguntungkan

Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain, fisik atau perasaan.

Bahkan sekalipun kemarahan itu beralasan!

Anak Tuhan bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah.

Seakan-akan Allah tidak adil.

Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?

Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan anak Tuhan tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah.

Marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka.

Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya ke dalam dosa.

Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar.

Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan.

Keberuntungan orang fasik hanya sementara, keberuntungan orang benar sungguh tak terkira.

’’Tinggalkanlah panas hati dan kendalikan emosi supaya tidak jatuh dalam kejahatan. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/riz)

Editor : Achmad RW
#meninggalkan #GPdI House of Prayer Sawahan #marah #kemarahan #Petrus Harianto