RadarJombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, tentang pentingnya tidak bersungut-sungut.
’’Kata mereka: Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.’' Tetapi Musa berkata kepada mereka: ’’Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai Tuhan?’’ tuturnya mengutip Keluaran 17:2.
Saat saya masih bekerja beberapa puluh tahun yang lalu, ada sebuah pengalaman yang jadi pelajaran berharga.
Waktu saya dan sopir mengirim barang di sebuah pusat perbelanjaan, kami kehilangan karcis parkir.
Akibatnya kami harus membayar denda Rp 50.000. Padahal waktu itu tarif parkirnya hanya Rp 2.000.
Karena jengkel, spontan pak sopir dengan nada tinggi, protes kepada petugas di loket parkir.
’’Ini tidak adil, masa kami harus bayar begitu mahalnya!’’ katanya.
’’Pokoknya saya tidak mau bayar!’’ gerutunya.
Namun setelah petugas menjelaskan bahwa ia hanya menjalankan ketentuan pihak pengelola, akhirnya kami membayar juga.
Namun pak sopir sepanjang perjalanan pulang terus menggerutu.
Seringkali ini yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Renungan Minggu 187, Keajaiban Akan Datang Ketika Kita Tetap Sabar dan Terus Berdoa
Kita bersungut-sungut ketika merasa terjebak dalam situasi yang tak dapat diubah.
Demikian juga reaksi umat Israel. Mereka bersungut-sungut ketika mengalami krisis air, saat mengembara di padang gurun.
Mereka merasa menjadi korban. Merasa terjebak mengikuti pimpinan Tuhan.
Akibatnya Musa pun menjadi sasaran kemarahan, karena ia juru bicara Tuhan.
Padahal ia hanya meneruskan "ketentuan pihak pengelola" yakni Tuhan sendiri.
Mereka menuduh, ’’Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami!’’ (Keluaran 17:3).
Jawab Musa, sungut-sungut mereka berarti mencobai Tuhan. Meragukan pimpinan-Nya.
Gerutuan mereka tidak dibalas Musa dengan sungut-sungut juga.
Musa berdoa dan berseru-seru kepada Tuhan (ayat 4). Hasilnya? Tuhan mengirimkan air!
Memang kita tak dapat mengubah situasi, tetapi kita dapat mengubah cara kita menghadapi situasi.
Sikap menggerutu membuat situasi tambah runyam. Pimpinan Tuhan diragukan. Orang lain dikambinghitamkan.
Bukankah lebih baik kita meniru Musa, berdoa berseru-seru pada Tuhan?
Baca Juga: Renungan Minggu 184, Kesempatan Besar Ada di Balik Tantangan yang Besar
Dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan, hati menjadi lega, Tuhan pun menawarkan solusi.
Ingatlah Tuhan bertindak bukan karena sungut-sungut umat, melainkan karena seruan Musa.
Dengan berseru-seru pada Tuhan, maka Tuhan memberi hikmat dan cara yang kreatif ketika menghadapi jalan buntu, tentu juga dengan iman.
Oleh iman kita kepada Tuhan, maka apa yang tidak terlihat akan jadi kenyataan.
Sebagian besar dari bangsa Israel tidak menikmati janji Tuhan, penyebabnya karena bersungut-sungut.
Jadi tidak ada keuntungan saat kita bersungut-sungut.
’’Dengan bersungut-sungut, muncul persoalan. Dengan berseru-seru dan bersyukur pada Tuhan, muncul penyelesaian. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/riz)
Editor : Achmad RW