RadarJombang.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan pentingnya menahan marah.
Menurut Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menahan marah bisa jadi salah satu tanda seseorang dikatakan beriman dan bertakwa.
’’Menahan marah termasuk tanda orang bertakwa,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (22/4).
Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 134. Orang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit.
Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang.
Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebagusan.
Habib Muhammad lalu menyampaikan sebuah hadis. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata;
Seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, ’’Berilah aku wasiat.’’
Nabi menjawab, ’’Janganlah engkau marah.’’
Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, namun Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab, ’’Janganlah engkau marah.’’
Ada lima kiat meredam marah. Pertama, membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah SWT dari godaan setan.
Baca Juga: Binrohtal 2.151, ini Hal Penting dan Manfaat dari Halal Bihalal
Karena marah itu dari setan. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’raf 200:
Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.
Sulaiman bin Surod radiyallahu ‘anhu cerita:
Suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada dua orang lelaki saling mengeluarkan kata-kata kotor.
Salah satunya telah merah mukanya dan tegang urat lehernya.
Lalu Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya.
Sekiranya ia mau membaca; A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.
Nabi juga bersabda; Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan; A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.
Kedua diam. Karena dalam kondisi marah bisa keluar kata-kata yang tidak Allah SWT ridai.
Ada yang saat marah keluar kata-kata kufur, caci maki, laknat, cerai hingga hal-hal sekitarnya bisa hancur.
Kalau kita memaksa diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi.
Nabi bersabda; Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.
Baca Juga: Binrohtal 2.147, Beberapa Ciri Orang Cerdas Menurut Nabi Muhammad
Ketiga, berganti posisi. Nabi bersabda;
Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah.
Jika marahnya telah hilang maka sudah cukup. Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.
Keempat, mengambil air wudu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air.
Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudu.
Kelima, ingat wasiat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dan janji beliau.
Barangsiapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.
Nabi juga bersabda; Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW