Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Toriqoh 295, Bahagia Adalah Ketika Kita Rida

Rojiful Mamduh • Selasa, 23 April 2024 | 14:15 WIB
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

RadarJombang.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, Jombang KH Cholil Dahlan, menjelaskan resep bahagia.

’’Syekh Abdul Qodir Aljilani menyatakan, bahagia itu ketika rida,’’ tuturnya.

Orang yang rida dengan apapun ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia akan bahagia. Sebaliknya, orang yang tidak rida, maka tak akan merasa bahagia.

’’Agar mudah rida, maka harus banyak zikir dan ingat Allah SWT,’’ terangnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 156.

Orang sabar yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan istirja: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sesungguhnya kita ini milik Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT.

Suatu ketika lampu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam padam. Lalu Nabi mengucapkan istirja`.

Aisyah bertanya; Bukankah ini hanya sebuah lampu? Rasulullah menjawab; Setiap yang mengecewakan hati orang mukmin itu berarti musibah.

’’Orang yang zikir ingat Allah SWT akan manfaat dan bahagia,’’ terangnya.

Sebagaimana munajat Yahya bin Mu’adz Ar-Razi. Oh Tuhanku, tiada indah suatu malam, kecuali dengan bermunajat kepada-Mu.

Tiada indah suatu siang, kecuali berbuat taat kepada-Mu. Tiada indah dunia ini, kecuali dengan menyebut (berzikir) kepada-Mu.

Baca Juga: Toriqoh 292: Tanda Zuhud

Tiada indah akhirat, kecuali bersama ampunan-Mu. Dan tiada indah surga, melainkan dengan melihat wajah-Mu.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tiada yang disesali penduduk surga melainkan atas satu detik waktu yang terlewat tanpa zikir.

’’Agar mudah zikir dan rida, salatnya harus sungguh-sungguh, cari ilmunya sungguh-sungguh dan banyak amal saleh,’’ urainya.

Orang yang cari ilmunya sungguh-sungguh, maka akan memperoleh ilmu sungguhan.

Sebaliknya, orang yang cari ilmunya asal-asalan juga akan meraih ilmu asal-asalan.

’’Aturan Allah SWT jika dilaksanakan akan membawa kebahagiaan dunia.

Baik itu yang mengamalkan muslim maupun nonmuslim. Tapi untuk kebahagiaan akhirat, yang mendapatkan hanya muslim,’’ jelasnya.

Orang muslim maupun nonmuslim yang tidak menaati aturan Allah SWT, maka tidak akan bahagia di dunia.

Kiai Cholil mencontohkan calon dokter hewan yang bunuh diri.

Dalam pandangan orang banyak, hidupnya pasti bahagia. Punya mobil, tinggal di apartemen, sudah sarjana dan sebentar lagi mendapatkan gelar dokter hewan.

Tapi nyatanya, dia bunuh diri.

’’Hidupnya tidak bahagia karena tidak menaati aturan Allah SWT,’’ bebernya.

Baca Juga: Toriqoh 289, Pentingnya Cinta Guru dan Pemimpin

Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.

Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka akan senang menaati aturan Allah SWT.

Serta bisa banyak zikir dan selalu rida dengan apapun ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/naz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#KH Cholil Dahlan #RIDA #resep #bahagia #Jombang #Toriqoh #PP Darul Ulum #Binrohtal #Rejoso