Pada edisi kemarin dipapar, bahwa pertanyaan ’’wa ma adrak..?’’ dengan bentuk fi’il madi pasti dijawab sendiri oleh Tuhan termasuk pada surah kaji ini.
Tetapi kalau bentuk pertanyaannya memakai fi’il mudari, ’’ wa ma yudrik..” maka dibiarkan saja tanpa ada penjelasan dari Tuhan.
’’Wa ma yudrik la’all al-sa’ah takun qariba..” (al-ahzab:63). ’’Wa ma yudrik la’all al-sa’ah qarib’’ (al-Syura:17) dan ’’wa ma yudrik la’allah yazzakka’’ ( Abasa:3).
Ya, hanya tiga ini saja pertanyaan yang pakai ’’wa ma yudrik’’ di dalam Alquran.
Sementara yang memakai bentuk madi ’’wa ma adrak’’ ada di 13 tempat. Dua di antaranya ada pada surah kaji ini.
’’Yawm yakun al-nas ka al-farasy al-mabtsuts. Wa takun al-jibal ka al-‘ihn al- manfusy.”
Hari kiamat diilustrasikan, manusia bagai laron beterbangan dan gunung-gunung berhamburan.
Lalu, sungguh tak terbayangkan betapa mengerikan peristiwa seperti itu. Rasanya tidak ada peristiwa di bumi ini yang semengerikan itu.
Jika manusia berhamburan kayak laron mudal dan terbang ke mana-mana itu bisa diakal.
Angin puting beliung yang sangat dahsyat saja bisa memporak porandakan bangunan, menerbangkan pohon-pohon besar, apalagi manusia yang bobotnya rata-rata kurang dari satu kuintal.
Sementara makna gunung-gunung semburat kayak kapas ditiup angin bermakna begini.
Baca Juga: Kiamat (4)
Saking dahsyatnya huru-hara hari kiamat, sehingga gunung-gunung yang menancap kokoh di bumi itu jebol dan terlepas.
Kemudian beterbangan ke mana- mana bagai kapas yang ditiup angin kencang.
Atau, gunung-gunung itu tetap tertancap di bumi, lalu bumi dan semua isinya beterbangan.
Ini bahasa metaforis, kalam majaz, ’’ min ithlaq al-juz wa iradah al- kull.” Bahasa kiasan yang menggunakan sampel sebagian yang terpenting, sementara sasarannya adalah kesemuanya.
Seperti kalimat: ’’Ke mana saja, kok tidak kelihatan batang hidungmu..?” Maksudnya adalah bodi secara keseluruhan, bukan sebatas batang hidung.
Kita tahu, bahwa binatang-binatang yang keseharian hidup bahagia di seputar gunung berapi biasanya pada turun dan mencari tempat aman ketika gunung berapi itu hendak meletus.
Dari mana mereka tahu..? Dari insting yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka.
Pelajaran yang bisa dipetik, antara lain:
Pertama, manusia yang hidup zaman akhir, menjelang kiamat itu tidak bagus.
Kedua, dituntut mempersiapkan diri, beramal kebajikan sebanyak-banyaknya sebelum kematian.
Ketiga, hendaknya mempunyai insting, kepekaan terhadap hal-hal yang bakal menimpa diri kita. Belajar dari hewan yang jauh hari turun dari gunung, sebelum erupsi. (*)
Editor : Achmad RW