Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cara Melakukan Munajat dan Mohon Ampunan Kepada Allah Menurut Kitab Nashaihul Ibad

M Nasikhuddin • Senin, 18 Maret 2024 | 15:33 WIB

 

Ilustrasi kitab Nasoihul Ibad karangan Syekh Nawawi Al Bantani
Ilustrasi kitab Nasoihul Ibad karangan Syekh Nawawi Al Bantani

Abu Bakar Asy-Syibli r.a. berkata dalam suatu munajatnya:

“Wahai Tuhanku, sungguh aku senang menghaturkan kepada-Mu seluruh kebajikanku berikut kemelaratan dan kelemahanku, maka bagaimana lagi Engkau oh Tuhanku, tidak suka menganugerahkan kepadaku seluruh kejelekanku berikut kemahakayaan-Mu untuk tidak menyiksa aku.”

Kemelaratan di sini diartikan dengan keperluan untuk memperoleh kebajikan dan kelemahan dimaksudkan dengan kelemahan untuk memperbanyak ibadah.

Sedang permohonan agar tidak disiksa, karena sesungguhnya kejelekan hamba itu tidak merugikan Allah sebagaimana kebajikan juga tidak menguntungkan-Nya.

Abu Bakar Dalf bin Jahdar Asy-Syibli r.a. termasuk tokoh makrifat kepada Allah SWT, dilahirkan di Baghdad dan bermazab Maliki, hidup selama 87 tahun.

Pada masa mudanya beliau menemui Al-Junaidi dan orang-orang yang semasa dengannya. Beliau wafat pada tahun 334 Hijriah dan dimakamkan di Baghdad.

Sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah kepadanya agar membaca tujuh kali tiga bait Bahar Wafir setelah salat Jumat sebagai berikut:

Wahai, Tuhanku!

Aku bukan ahli Firdaus.

Namun aku tidak kuat dengan neraka Jahim.

Maka terimalah tobatku dan ampunilah dosas-dosaku.

Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun dosa yang besar.

Perlakukanlah diriku dengan perlakuan orang yang mulia.

Dan tetapkanlah aku di jalan yang lurus.”

Sebuah hikayat:

Asy-Syibli datang kepada Ibnu Mujahid. Ibnu Mujahid seraya merangkulnya dan mencium kening di antara kedua matanya.

Asy-Syibli bertanya kepada Ibnu Mujahid: Mengapa kamu melakukan hal itu?

Ibnu Mujahid menerangkan: Ketika sedang tidur aku bermimpi melihat Nabi SAW beliau berdiri menghampirimu dan mencium kening antara kedua matamu.

Aku bertanya kepada beliau: Ya, Rasulullah, mengapa Tuan melakukan hal ini kepada Asy-Syibli?

Beliau SAW. menjawab: Aku melakukan itu karena setiap dia selesai salat fardu, dia selalu membaca:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu “Sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia, dan hanya kepada-Nya aku berserah diri dan Dia-lah Tuhan pemilik Arsy yang agung.” (Q.S. At-Taubah: 128-129).

Dilanjutkan dengan membaca: “Semoga salawat Allah dilimpahkan kepadamu, wahai, Muhamamd.”

Selanjutnya Ibnu Mujahid menyatakan, telah bertanya kepada AsySyibli tentang bacaan setelah salat fardu, dan ternyata Asy-Syibli menjawab seperti dalam impian tersebut di atas. (*)

Tulisan ini Dinukil dari terjemah Kitab Nashaihul Ibad karangan Syekh Imam Nawawi al-Bantani

Editor : Achmad RW