Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Toriqoh 287 Syaqiq Al-Balkhi

Anggi Fridianto • Selasa, 27 Februari 2024 | 12:28 WIB
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

Radarjombang.id - Banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi zuhud. Salah satunya seperti kisah yang dialami Syekh Syaqiq Al-Balkhi.

’’Beliau ini gurunya Syekh Hatim Al-Asham,’’ kata Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, KH Cholil Dahlan.

Kiai Cholil cerita, Syekh Syaqiq Al-Balkhi anak seorang hartawan.

Dalam suatu perjalanan niaganya ke Turki, sempat memasuki sebuah rumah penyembahan berhala.

Disitu banyak pendeta yang berkepala gundul dan tidak berjenggot.

Kepada seorang pelayan, Syaqiq berkata: ’’Anda diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Hidup, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Sembahlah kepada-Nya, tidak perlu lagi menyembah pada berhala-berhala yang tidak berbahaya juga tidak berguna!’’

Dengan diplomatis pelayan itu menjawab: ’’Jika benar, apa yang kamu katakan, bahwa Tuhan Maha Kuasa memberi rezeki kepadamu di negerimu sendiri, mengapa Tuan dengan susah payah datang kemari untuk berniaga?’’

Syekh Syaqiq sendiri berasal dari Persia atau Iran sekarang. Dia berdagang hingga sampai ke Turki. Mendengar perkataan pelayan itu, terketuklah hati Syaqiq.

’’Untuk apa aku berdagang hingga ke Turki. Toh Allah juga bisa memberi rezeki di negeriku sendiri,’’ ucap Syekh Syaqiq dalam hati.

Syekh Syaqiq akhirnya tergerak untuk menempuh kehidupan Zuhud. Dia berjualan di negerinya sendiri. Sehingga bisa lebih banyak menghabiskan waktu untuk berzikir dan munajat kepada Allah SWT.

’’Karena berdagang hingga ke luar negeri itu pasti capek. Sehingga tidak bisa membaca zikir dan wirid yang  biasa dibaca,’’ paparnya.

Zuhud yakni mengambil dari dunia seperlunya. Sekedar cukup untuk bekal ibadah kepada Allah SWT. Makan yang penting bisa tetap bertahan hidup untuk ibadah.

Pakaian yang penting bisa menutupi aurat.

’’Punya makanan yang enak diberikan orang lain. Makanan yang tidak enak dimakan sendiri,’’ paparnya. Punya pakaian yang bagus diberikan orang.

Pakaian yang biasa dipakai sendiri. ’’Itu contoh zuhud fisik,’’ terangnya.

Kisah lain menceritakan, Syekh Syaqiq melihat seorang hamba bermain-main, sementara kehidupan perekonomian mengalami paceklik, yang melanda manusia secara merata. Kepada hamba itu Syaqiq bertanya:

’’Apakah kerja Anda, bukankah Anda tahu orang-orang sedang menderita karena paceklik?’’

 Si hamba itu menjawab: ’’Saya tidak mengalami paceklik, karena majikanku memiliki perkampungan subur yang hasilnya mencukupi keperluan kami.’’

 Di sinilah Syaqiq mulai terketuk hatinya dan berkata: ’’Jika hamba tersebut tidak memikirkan rezeki karena majikannya memiliki perkampungan yang subur, toh si majikan itu sendiri adalah makhluk yang melarat dihadapan Allah SWT.

Maka bagaimana bisa orang muslim memikirkan rezekinya, sedang Tuhannya Maha Kaya?’’

Ini membuat Syaqiq fokus pada ibadah, wirid, zikir serta majelis ilmunya. Bekerja untuk dunia hanya seperlunya.  Karena dia yakin urusan rezekinya sudah dijamin oleh Allah SWT.

Sedangkan urusan akhiratnya tergantung amalnya sendiri.

Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati. Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka akan akan bisa berlaku zuhud di dunia. (jif/naz/ang)

Editor : Anggi Fridianto
#KH Cholil Dahlan #ponpes darul ulum #Thoriqoh