Masih tentang ’’husn al-khatimah’’, akhir hayat yang bagus. Doa begitu itu ada etikanya.
Berdoa husnul khatimah sangat penting untuk diri sendiri, tetapi bagus juga meminta kepada orang lain agar mendoakan dirinya.
Semisal: ’’..Doakan saya agar husnul khatimah.’’ Sowan ing ngersane Gusti Allah sarono apik.
Utamanya bagi muslim yang sudah berusia enam puluh tahun ke atas. Sudah bau tanah kuburan.
Meskipun demikian, tetapi perlu sekali dilihat-lihat keadaannya. Jika teman anda meminta didoakan, maka anda sunah mendoakan, anda mendapat pahala.
Mendoakan kebajikan untuk orang lain sama saja dengan berdoa untuk diri sendiri.
Tetapi, bila teman anda tidak meminta, maka jangan nyelonong mendoakan: ’’Hei, saya doakan kamu mati husnul khatimah..’’
Ini, dikhawatirkan si teman tadi belum siap mati walau mati baik. Bisa salah paham, dikiranya mendoakan cepat mati.
Doa ’’husn’’-nya sih baik, tetapi doa ’’mati’’nya tadi yang mengerikan.
Berbeda dengan teman yang meminta, maka itu pertanda sudah siap menghadap Tuhan.
Husnul khatimah itu kayak orang makan, yang bagian akhirnya enak, kunyahan terakhirnya lezat. Contoh, makan rujak cingur, bagi penghobinya.
Baca Juga: Kiamat (1)
Kangkung, lontong, tahu, tempe dimakan duluan, sedangkan cingurnya dimakan di akhir.
Maka semua rasa sebelumnya tertindas dengan rasa cingur. Bersendawa, gelege- en-nya juga rasa cingur, gak mungkin rasa kangkung.
Sedangkan su’ al-khatimah itu kayak makan kacang yang gurih dan lezat. Sayang di bagian akhir kacangnya busuk dan pahit.
Kisah zaman Bani Israel tentang penjahat yang sudah membunuh 99 orang, lalu ingin bertobat dan bertanya-tanya kepada ahli agama: Apakah tobatnya bisa diterima..?
Ahli agama itu menjawab: ’’ ..Tidak bisa, kejahatan kamu keterlaluan, melebihi batas..’’ Geregetan dengan jawaban tersebut, ahli agama itu dibunuh. Maka korban genap 100 orang.
Kemudian pergi ke ahli agama yang bijak dengan pertanyaan serupa dan dijawab, ’’Bisa’’, asal kamu benar-benar niat bertobat dan pergi meninggalkan desamu.
Pergilah ke desa sono, penduduknya saleh-saleh dan menetaplah bersama mereka.
Pembunuh itu menurut dan pergi menuju desa pertobatan. Tapi mati di tengah jalan. Malaikat surga dan malaikat neraka berebut dan bertengkar.
Kata malaikat surga: ’’Ini mayit baik, milik saya dan harus masuk surga, sebab sudah bertobat.’’
Kata malaikat neraka: ’’Tidak bisa, ini mayit brengsek dan harus masuk neraka, karena tobat belum terlaksana.’’
(bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Achmad RW