Ini masih tentang surga yang mesti dibooking sekarang, saat di dunia. Ya memang, akhirat itu tujuan akhir dari perjalanan hidup kita.
Agama mengilustrasikan, bahwa hidup di dunia itu bagaikan musafir yang sedang transit, sedang mampir di rest area.
Tentu tidak ada yang menetap, melainkan segera melanjutkan perjalanan.
Andai sopir kendaraan anda beristirahat lama, bermalas-malasan, apalagi malah tidur-tiduran, maka bagaimana sikap anda?
Membiarakn dia atau anda ikut tidur bersamanya atau menegur agar segera melanjutkan perjalanan?
Itulah, maka gambaran orang menuju akhirat itu tak ubahnya dengan perjalanan anda.
Jika anda hendak menuju tempat rekreasi atau tempat yang sangat diidamkan-idamkan, maka anda pasti ingin segera sampai ke tujuan.
Andai ada hambatan di jalan, pasti hati anda resah. Itulah tamsilan orang-orang saleh. Mereka tidak mempersoalkan, apakah dianugerahi umur panjang atau pendek.
Yang penting bekalnya banyak. Lebih cepat sampai ke tujuan, semakin lebih disukai.
Seperti kalian yang ingin ketemu kekasih, maka semakin cepat ketemu, maka semakin melegakan. Dan Allah SWT adalah maha kekasih.
Perindu Tuhan, dalam litaratur sufistik ditamsilkan sebagai: ’’Ka shibyan yatanazzahun.’’ Anak-anak yang dijanjikan diajak rekreasi esok pagi.
Baca Juga: THE HORSE (29)
Mereka sangat senang dan berperilaku saleh demi mengambil hati orang tuanya.
Diomongi harus bangun pagi dan jangan sampai terlambat, eh..malah bangun lebih pagi.
Pada jam yang dijanjikan, tapi kendaraan belum ada, dipertanyakan.
Ya, karena mengerti bahwa tempat yang dituju benar-benar diidamkan, benar-benar mengasyikkan.
’’Ati bronto,’’ ingin sekali segera sampai. Sebab segalanya sudah siap dan ingin segera menikmati. Seperti itukah hati anda terhadap alam akhirat..?
Sebaliknya, orang yang banyak maksiat dan durhaka. Ketika keranda mayat siap mengantarnya menuju kuburan, tamsilannya seperti pesakitan yang dijemput mobil polisi.
’’Kasariq maqdur alaih.’’ Hati resah, dipaksa dan tidak diberi kesempatan, walau sekedar pamit ke anak dan istri. Sudah terbayang penjara yang menakutkan.
Na’udz billah min dzalik.
Kita ambil lagi tamsilan, bahwa hidup ini seperti musafir. Pembaca yang tinggal di Jombang, jika anda mau bepergian ke Surabaya, kiro-kiro sangu duit piro..? Rp 50 ribu, ati manteb..?
Jika ke Jakarta, sangu Rp 500 ribu, ati manteb..? Jika ke Singapura..? ke New York..? Apalagi ke akhirat..?
Yang kita takutkan, bila sangu kurang adalah ketelarak dan terlantar di negeri orang, dan itu pasti.
Tapi itu tidak seberapa, karena masih terbuka peluang meminta tolong kepada orang lain dan sangat mungkin ditolong.
Baca Juga: THE HORSE (26)
Tapi kalau di alam akhirat..? Mau meminta tolong kepada siapa? Hari itu, hubungan famili tiada lagi berarti.
(bersambung, in sya’Allah).
Editor : Achmad RW