Radarjombang.id - Ini masih tentang surga yang mesti dibooking sekarang, saat di dunia. Ya memang, akhirat itu tujuan akhir dari perjalanan hidup kita. Agama mengillustrasikan, bahwa hidup
di dunia itu bagaikan musafir yang sedang transit, sedang mampir di rest area.
Tentu tidak ada yang menetap, melainkan segera melanjutkan perjalanan.
Andai sopir kendaraan anda beristirahat lama, bermalas-malasan, apalagi malah
tidur-tiduran, maka bagaimana sikap anda? Membiarakn dia atau anda ikut tidur
bersamanya atau menegur agar segera melanjutkan perjalanan?
Itulah, maka gambaran orang menuju akhirat itu tak ubahnya dengan perjalanan
anda. Jika anda hendak menuju tempat rekreasi atau tempat yang sangat
diidamkan-idamkan, maka anda pasti ingin segera sampai ke tujuan. Andai ada
hambatan di jalan, pasti hati anda resah. Itulah tamsilan orang-orang saleh.
Mereka tidak mempersoalkan, apakah dianugerahi umur panjang atau pendek.
Yang penting bekalnya banyak. Lebih cepat sampai ke tujuan, semakin lebih
disukai. Seperti kalian yang ingin ketemu kekasih, maka semakin cepat ketemu,
maka semakin melegakan. Dan Allah SWT adalah maha kekasih.
Perindu Tuhan, dalam litaratur sufistik ditamsilkan sebagai: ’’Ka shibyan
yatanazzahun.’’ Anak-anak yang dijanjikan diajak rekreasi esok pagi. Mereka
sangat senang dan berperilaku saleh demi mengambil hati orang tuanya. Diomongi
harus bangun pagi dan jangan sampai terlambat, eh..malah bangun lebih pagi.
Pada jam yang dijanjikan, tapi kendaraan belum ada, dipertanyakan. Ya, karena
mengerti bahwa tempat yang dituju benar-benar diidamkan, benar-benar
mengasyikkan. ’’Ati bronto,’’ ingin sekali segera sampai. Sebab segalanya sudah
siap dan ingin segera menikmati. Seperti itukah hati anda terhadap alam
akhirat..?
Sebaliknya, orang yang banyak maksiat dan durhaka. Ketika keranda mayat siap
mengantarnya menuju kuburan, tamsilannya seperti pesakitan yang dijemput
mobil polisi. ’’Kasariq maqdur alaih.’’ Hati resah, dipaksa dan tidak diberi
kesempatan, walau sekedar pamit ke anak dan istri. Sudah terbayang penjara
yang menakutkan. Na’udz billah min dzalik.
Kita ambil lagi tamsilan, bahwa hidup ini seperti musafir. Pembaca yang tinggal di
Jombang, jika anda mau bepergian ke Surabaya, kiro-kiro sangu duit piro..? Rp 50
ribu, ati manteb..?
Jika ke Jakarta, sangu Rp 500 ribu, ati manteb..? Jika ke
Singapura..? ke New York..? Apalagi ke akhirat..?
Yang kita takutkan, bila sangu kurang adalah ketelarak dan terlantar di negeri
orang, dan itu pasti. Tapi itu tidak seberapa, karena masih terbuka peluang
meminta tolong kepada orang lain dan sangat mungkin ditolong. Tapi kalau di
alam akhirat..? Mau meminta tolong kepada siapa? Hari itu, hubungan famili
tiada lagi berarti. (bersambung, in sya’Allah).
Editor : Anggi Fridianto