Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (31)

Anggi Fridianto • Jumat, 12 Januari 2024 | 13:30 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Radarjombang.id - Ini masih tentang surga yang mesti dibooking sekarang, saat di dunia. Ya memang, akhirat itu tujuan akhir dari perjalanan hidup kita. Agama mengillustrasikan, bahwa hidup

di dunia itu bagaikan musafir yang sedang transit, sedang mampir di rest area.

Tentu tidak ada yang menetap, melainkan segera melanjutkan perjalanan.

Andai sopir kendaraan anda beristirahat lama, bermalas-malasan, apalagi malah

tidur-tiduran, maka bagaimana sikap anda? Membiarakn dia atau anda ikut tidur

bersamanya atau menegur agar segera melanjutkan perjalanan?

Itulah, maka gambaran orang menuju akhirat itu tak ubahnya dengan perjalanan

anda. Jika anda hendak menuju tempat rekreasi atau tempat yang sangat

diidamkan-idamkan, maka anda pasti ingin segera sampai ke tujuan. Andai ada

hambatan di jalan, pasti hati anda resah. Itulah tamsilan orang-orang saleh.

Mereka tidak mempersoalkan, apakah dianugerahi umur panjang atau pendek.

Yang penting bekalnya banyak. Lebih cepat sampai ke tujuan, semakin lebih

disukai. Seperti kalian yang ingin ketemu kekasih, maka semakin cepat ketemu,

maka semakin melegakan. Dan Allah SWT adalah maha kekasih.

Perindu Tuhan, dalam litaratur sufistik ditamsilkan sebagai: ’’Ka shibyan

yatanazzahun.’’ Anak-anak yang dijanjikan diajak rekreasi esok pagi. Mereka

sangat senang dan berperilaku saleh demi mengambil hati orang tuanya. Diomongi

harus bangun pagi dan jangan sampai terlambat, eh..malah bangun lebih pagi.

Pada jam yang dijanjikan, tapi kendaraan belum ada, dipertanyakan. Ya, karena

mengerti bahwa tempat yang dituju benar-benar diidamkan, benar-benar

mengasyikkan. ’’Ati bronto,’’ ingin sekali segera sampai. Sebab segalanya sudah

siap dan ingin segera menikmati. Seperti itukah hati anda terhadap alam

akhirat..?

Sebaliknya, orang yang banyak maksiat dan durhaka. Ketika keranda mayat siap

mengantarnya menuju kuburan, tamsilannya seperti pesakitan yang dijemput

mobil polisi. ’’Kasariq maqdur alaih.’’ Hati resah, dipaksa dan tidak diberi

kesempatan, walau sekedar pamit ke anak dan istri. Sudah terbayang penjara

yang menakutkan. Na’udz billah min dzalik.

 

Kita ambil lagi tamsilan, bahwa hidup ini seperti musafir. Pembaca yang tinggal di

Jombang, jika anda mau bepergian ke Surabaya, kiro-kiro sangu duit piro..? Rp 50

ribu, ati manteb..?

 Jika ke Jakarta, sangu Rp 500 ribu, ati manteb..? Jika ke

Singapura..? ke New York..?  Apalagi ke akhirat..?

Yang kita takutkan, bila sangu kurang adalah ketelarak dan terlantar di negeri

orang, dan itu pasti. Tapi itu tidak seberapa, karena masih terbuka peluang

meminta tolong kepada orang lain dan sangat mungkin ditolong. Tapi kalau di

alam akhirat..? Mau meminta tolong kepada siapa? Hari itu, hubungan famili

tiada lagi berarti. (bersambung, in sya’Allah).

Editor : Anggi Fridianto
#The Horse #islam #Kajian